
“Vertigo ini merupakan gejala gangguan keseimbangan yang paling sering terjadi dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari,” kata Fikry kepada Tirto.
Ia menambahkan sekitar 80 persen kasus vertigo disebabkan oleh kelainan pada telinga dalam atau bagian perifer. Keluhan vertigo yang hebat dan mendadak dapat menyebabkan gejala otonom seperti cemas sampai rasa takut.
Vertigo sering kali diikuti dengan gejala mual dan muntah serta ketidakmampuan penderita menjaga keseimbangan badan. Hal ini yang menyebabkan penderita mengalami kesulitan berdiri atau berjalan. Kelainan ini bisa terjadi karena gangguan keseimbangan baik sentral atau perifer.
Untuk menentukan kelainan yang menyebabkan vertigo, dokter THT-KL biasanya akan melakukan pemeriksaan ENG (elektronistagmografi).
dr. Mahda Adil Aufa, dokter di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta menyebutkan bahwa vertigo termasuk gejala dan bukan penyakit. Sehingga cara mengatasi vertigo tergantung pada penyakit yang menyebabkan gejala tersebut pada tubuh seseorang.
“Sebaiknya, pasien langsung dirujuk ke dokter saraf untuk mencari penyebab lebih detailnya,” kata Mahda.
Dr. Carol Foster, ahli autolaringologi di Laboratorium Saldo di Rumah Sakit Universitas Colorado, AS, menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena adanya pelemahan pada lapisan protein penahan kristal di saraf, seiring bertambahnya usia.
Gejala vertigo juga muncul ketika pasien menderita migrain dan penyakit meniere. Migrain adalah gangguan neurovaskuler yang mana mekanisme dimulai dari dalam bagian otak lalu menyebar ke dalam pembuluh darah.
Kejadian gangguan vertigo dialami oleh masyarakat di dunia termasuk negara-negara maju. Di Amerika Serikat misalnya, angka kejadian vertigo mencapai 64 kejadian dari 100.000 orang. Sedangkan, perempuan cenderung lebih sering terserang vertigo dibanding laki-laki.
Cara Mengatasi Vertigo
Dr Fikry menambahkan, vertigo apa pun yang disebabkan oleh kelainan perifer atau vertigo perifer dapat disembuhkan dengan pengobatan atau terapi reposisi seperti terapi reposisi canalith dan terapi latihan vestibular.
Obat penekan saraf vertibuler biasanya diatasi dengan jenis obat histamine analogue. Di pasaran, obat ini sudah banyak tersedia dari merek generik sampai paten.
Dhanang Iswardhana, apoteker sekaligus apoteker yang bekerja di salah satu perusahaan farmasi pelat merah, menjelaskan obat jenis tersebut bekerja langsung dengan cara mengikat reseptor histamin yang terletak di dinding aliran darah, termasuk di telinga. Dengan mengaktifkan reseptor histamin, efeknya dapat menimbulkan vasokontraksi yang kemudian akan meningkatkan sirkulasi darah.
Obat ini membantu meredakan tekanan di telinga serta mampu mengurangi rasa mual dan pusing, kata Dhanang kepada Tirto.
Gejala vertigo termasuk tidak berbahaya karena masih dapat diobati. Namun, menurut Dr. Susan Herdman, Profesor Emerita of Rehabilitation Medicine pada Emory University, pasien akan sangat tersiksa jika gejala vertigo terus berlanjut. Ia menyatakan, beberapa pasien merasa tidak stabil sehingga harus berpegangan pada dinding dan perabotan, atau bahkan menggunakan kursi roda. Jika sudah begitu, dokter biasanya akan merekomendasikan pasien untuk istirahat total.
Sependapat dengan Herdman, dr Mahda Adil Aufa mengatakan, jika kondisi pasien sudah mencapai titik mual dan muntah hingga menyebabkan dehidrasi, maka harus istirahat total.
“Terlebih lagi jika pasien juga mengalami gangguan keseimbangan berat,” kata dr. Mahda kepada Tirto.
Biasanya dokter akan menyarankan pasiennya untuk dirawat di rumah sakit bila pasien mengalami perasaan cemas atau takut yang berlebihan. Karena kalau pasien bergerak, dia akan merasa pusing dan berputar-putar, tambah dr Fikry.
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Suhendra

