Posted in

Siswi SMA di Belu yang Dibanting Guru Masih Diopname

Siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Zivania Martins Naibuti (16), dilaporkan tengah diopname di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gabriel Manek Atambua setelah dijambak dan dibanting oleh gurunya karena tak bisa menggambar sel saraf. Ia dipukul oleh guru mata pelajaran Biologi, Vince Aplugi, saat sedang mengikuti ujian.

“Anak saya saat ini masih dirawat di RSUD Gabriel Manek Atambua sejak kejadian Selasa (24/2/2026),” kata ayah Zivania, Simon Nai Buti, kepada detikBali, Jumat (27/2/2026).

Simon menjelaskan anaknya memang sadar, tetapi masih mengeluh pusing di bagian kepala dan mual-mual. Zivania juga sudah menjalani Computed Tomography Scan (CT Scan), tetapi hasilnya belum keluar.

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Menurut Simon, sejak kasus itu terjadi, pihak sekolah maupun Vince Aplugi tak punya iktikad untuk meminta maaf dan menjenguk anaknya saat menjalani perawatan medis. Kepala SMAN 1 Atambua, Dominikus Seran Bria, baru datang untuk bertemu dengan keluarga pada Kamis (26/2/2026) setelah mendapat panggilan dari Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Belu.

“Kasusnya terus berlanjut. Kemarin saya ke Polsek Belu untuk menanyakan perkembangan kasusnya, tapi polisi bilang menunggu anak saya sembuh dulu baru saya bisa ambil keterangan,” jelas Simon.

Simon menuturkan kejadian bermula saat siswi kelas dua itu sedang mengikuti ujian mata pelajaran Biologi dengan jumlah soal mencapai 30 nomor. Namun, dalam soal nomor ke-30 terdapat soal untuk menggambar sel saraf.

Semua siswa yang berjumlah 33 orang di kelas itu tak bisa menggambar. Vince yang naik pitam langsung memukul Zivania di bagian kepala dengan sebuah botol yang berisi air mineral. Setelah itu, ia menghampiri semua siswa dan memukulnya satu per satu.

“Guru yang pukul itu bukan guru yang selama ini mengasuh anak saya, tetapi dia hanya guru pengganti karena yang guru yang mengajar biologi selama ini sedang cuti melahirkan. Semua siswa dalam kelas itu kena pukul,” tutur Simon. “Kalau yang sedang puasa itu yang tidak kena pukul,” lanjut Simon.

Setelah itu, Vince langsung meninggalkan ruangan tersebut. Zivania lantas mengambil botol tersebut dan membuangnya ke tempat sampah karena airnya sudah berbusa.

Mendengar adanya bunyi, Vince kembali ke ruangan dan menanyakan pembuang botol tersebut. Zivania lantas mengakui membuang botol itu. Mendengar hal tersebut, Vince langsung menjambak rambutnya berulang kali, lalu membantingnya di atas meja dan menamparnya hingga tak sadarkan diri dan lemas.

“Jadi saat itu dia (Vince Aplugi) langsung keluar, tapi teman anak saya teriak kalau ibu Vania pingsan.

Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke pihak sekolah. Selanjutnya wali kelasnya segera memanggil orang tuanya untuk segera berangkat ke sekolah karena Zivania sedang mengalami sesak nafas dan kejang-kejang.

“Jadi saya pikir dia sakit lambung, makanya saya langsung ambil motor dan menuju ke sekolah. Saat di sana, dia sedang terbaring di atas kursi dan dipangku oleh wali kelas dan beberapa temannya,” imbuh Simon.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Belu, AKP Rachmat Hidayat, menambahkan hingga saat ini belum ada saksi yang diperiksa. Menurutnya, pemeriksaan dilakukan setelah korban sudah pulih.

“Kami masih nunggu periksa korban dahulu karena masih diopname. Korban sehat dulu baru diperiksa. Nanti saya informasikan perkembangannya,” jelas Rachmat.

Diberitakan sebelumnya, siswi berinisial SMN (16) di salah SMA negeri di Belu, NTT, dipukuli oleh gurunya, Vince Aplugi, hingga pingsan karena tak bisa menggambar neuron atau sel saraf. Insiden itu terjadi pada Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 12.00 Wita.

“Terlapor menganiaya korban dengan menggunakan botol yang berisikan air mineral serta menarik rambut dan membanting korban di kursi hingga pingsan dan merasa sakit di bagian kepala dan merasa pusing,” ujar Rachmat kepada detikBali, Rabu (25/2/2026).

(hsa/hsa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *