
BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Tiga kampung di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), luluh lantak setelah diterjang longsor pada 24 Januari 2026 dini hari. Bencana tersebut meratakan permukiman warga dan mengubah bentang alam kawasan lereng Gunung Burangrang secara drastis.
Longsor dilaporkan melanda area seluas kurang lebih 26 hektare. Material tanah bergerak dari mahkota di puncak Gunung Burangrang hingga ke bagian bawah Kampung Pasir Kuda dengan panjang sekitar 2.009 meter atau sekitar 2 kilometer.
Sebulan pascakejadian, lokasi terdampak tampak lengang. Hamparan batu berukuran besar, lumpur yang mulai mengering, serta sisa-sisa bangunan menjadi pemandangan yang tersisa. Pemerintah pun mulai menjalankan program penghijauan di area bekas longsor guna mencegah bencana susulan.
“Dari provinsi sudah mulai menabur benih menggunakan drone mulai Jumat pagi, itu untuk penghijauan. Khawatir kalau tidak ditanami akan ada longsor lagi,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) KBB, Ade Zakir, Minggu (1/3/2025) seperti yang dikutip dari laman detikJabar.
Upaya ini merupakan hasil kesepakatan antara Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Pemprov Jabar, dan Pemda KBB untuk menanam tanaman keras di kawasan terdampak.
“Jadi memang arahan dari Menteri LH, Menteri Pertanian, dan Gubernur memang menyetujui adanya reboisasi,” kata Ade Zakir.
Selain fokus pada rehabilitasi lahan, pemerintah daerah juga tengah mengkaji skema penggantian lahan pertanian milik warga yang ikut tertimbun material longsor. Sepanjang jalur longsor, tak hanya rumah yang hancur, tetapi juga lahan pertanian dan greenhouse yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Ya kita harapkan begitu (bisa ditukarkan dengan tanah kas desa), sehingga yang terdampak longsor bisa dihutankan kembali, sehingga warga bisa menggarap tanah kas desa,” kata Ade Zakir.
Salah satu warga terdampak, Iman Rahmat, mengaku kehilangan lahan pertanian seluas 140 tumbak yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya sebagai petani sayuran. Seluruh lahan tersebut kini tertimbun longsor.
“Tanah saya 140 tumbak, sudah ada sertifikatnya. Ya bingung, mau kerja apa lahannya habis. Belum ada (pembahasan soal penggantian), harapannya ya segera ada supaya bisa bekerja lagi,” kata Iman.
