Posted in

Konflik Iran-Israel Mengguncang Timur Tengah, Indonesia Jangan Diam


Jika dilihat kronologisnya, konflik ini bermula dari pengeboman konsulat Iran di Damaskus yang menimbulkan korban jiwa cukup besar. Penyerangan tersebut diduga dilakukan oleh agen Mossad, kata Asep.

Ia menambahkan, ketegangan semakin meningkat setelah peristiwa pembunuhan terhadap salah satu pemimpin Hamas, yaitu Ismail Haniyeh, yang juga terjadi di Iran.

Eskalasi terbaru konflik Iran-Israel dimulai pada 1 April 2024, ketika terjadi serangan terhadap fasilitas diplomatik Iran. Serangan ini kemudian dibalas oleh Iran pada 13 April, sebagai respons atas insiden di Damaskus. Pembalasan tidak berhenti sampai di situ. Israel kembali melancarkan serangan yang disusul balasan lanjutan dari Iran pada 1 Oktober 2024. Ketegangan terus meningkat ditandai dengan bentrokan militer pada 26 Oktober tahun yang sama.

Memasuki pertengahan 2025, konflik kembali pecah. Pada 13 Juni, Israel melancarkan serangan militer yang kemudian dibalas Iran dalam waktu singkat. Siklus serangan dan balasan ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara semakin sulit dikendalikan.

Pada dasarnya, konflik ini bermula dari kekhawatiran strategis Israel terhadap potensi kepemilikan senjata nuklir Iran. Bagi Israel, keberadaan tenaga nuklir di tangan negara-negara Timur Tengah, khususnya Iran, dianggap sebagai ancaman serius terhadap keamanan kawasan dan eksistensi negaranya sendiri.

Selain membahas eskalasi serangan, perhatian juga tertuju pada potensi penutupan Selat Hormuz sebagai respons strategis Iran. Secara historis, penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman strategis yang pernah digunakan Iran saat Perang Iran-Irak (1980–1988), dan sempat memicu krisis minyak global. Sebagai jalur vital ekspor minyak dari negara-negara Teluk ke Asia dan Eropa, selat ini menjadi “kartu as” Iran jika tekanan militer dari AS atau Israel meningkat. Ancaman ini makin relevan karena beberapa negara Arab, seperti Yordania dan Arab Saudi, membiarkan wilayah udaranya digunakan untuk serangan Israel.

Jika penutupan ini terjadi, harga minyak dunia diperkirakan mencapai 100 dolar per barel yang berdampak pada kenaikan harga bahan bakar seperti Pertamax dan Pertalite, serta memicu krisis ekonomi baru, kata Asep.

Potensi meluasnya perang di Timur Tengah kian nyata, terutama setelah beberapa negara Arab seperti Yordania, Mesir, UEA, Bahrain, Maroko, dan Libya melakukan normalisasi dengan Israel. Kondisi ini membuka peluang terbentuknya koalisi menghadapi Iran. Selain itu, ketegangan sektarian Sunni-Syiah turut memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.

Kemungkinan Perang Dunia III

Asep menekankan, jika gencatan senjata tidak tercapai, potensi perang regional akan terus membesar. Sementara itu, kemungkinan pecahnya Perang Dunia III bergantung pada sikap China dan Rusia, yang memiliki kepentingan menyeimbangkan dominasi Amerika Serikat. Jika AS bertindak agresif tanpa mempertimbangkan posisi kedua negara tersebut, keterlibatan China dan Rusia bisa meningkat. Hingga kini, respons keduanya masih sebatas pernyataan dan peringatan agar AS tidak terlalu campur tangan membela Israel. Namun, eskalasi tetap terbuka, apalagi dengan serangan terbaru Iran ke markas militer AS di Qatar.

Menanggapi perkembangan situasi global yang kian memanas, Asep melihat perlunya langkah konkret dari Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam mendorong perdamaian.

Asep menekankan bahwa Indonesia tidak cukup hanya menyatakan keprihatinan, tetapi harus bertindak aktif di forum Gerakan Non-Blok untuk mendorong solusi damai melalui perundingan, bukan kekuatan senjata. Ia juga menuturkan pentingnya diplomasi Indonesia di BRICS agar kelompok ini berperan dalam menjaga perdamaian global.

Indonesia Jangan Diam Tanggapi Konflik Timur Tengah

Di tingkat ASEAN, Indonesia perlu menggalang solidaritas dalam merespons konflik Timur Tengah. Asep juga mengingatkan agar Indonesia tidak melupakan Gaza, yang terus menjadi korban genosida Israel dan harus tetap menjadi perhatian diplomasi luar negeri.

Sebagai pernyataan penutup, Asep mengingatkan bahwa mahasiswa dan masyarakat luas perlu memahami realitas dunia internasional yang tidak selalu berjalan berdasarkan hukum, nilai kemanusiaan, atau prinsip kesetaraan antarnegara.

Dalam praktiknya, tatanan global sering kali bersifat anarkis, di mana kekuatan militer dan politik lebih dominan daripada keadilan dan kesetaraan. “Siapa yang kuat akan menang, yang lemah akan ditekan,” ujarnya.

Karena itu, Asep menegaskan pentingnya Indonesia menjadi negara yang kuat di berbagai sektor, seperti ekonomi, politik, dan pertahanan agar tidak mudah menjadi korban tekanan dari kekuatan besar dunia.

Pengarang: Putri Hana Nurhasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *