:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/26/ee3d52ed-a827-4831-b407-757de13a63b8_jpg.jpg)
Rudal-rudal hipersonik Iran mampu menembus Israel. Penanda baru perang rudal di dunia.
Iran membalas serangan Israel sejak Jumat (13/6/2025). Analisis International Institute for Strategic Studies mencatat, hari itu, Iran meluncurkan 150 rudal dalam dua gelombang serangan ke wilayah Israel. Serangan balasan Iran ini terus dilakukan hingga 16 Juni 2025 dengan total meluncurkan 370 rudal balistik. Selain rudal, Iran juga mengerahkan sejumlah drone unggulannya, seperti Shahed 136 dan Arash 2.
Dari bukti visual berupa puing-puing misil yang ditemukan di wilayah Israel, Iran menggunakan rudal-rudal andalannya, seperti Emad, Haj Qasem, Khaibar Shekan, dan Fattah, yang sebagian besar telah digunakan dalam serangan ke Israel Oktober 2024.
Serangan balik Iran pada Juni 2025 menandai babak baru dalam perang rudal modern. Hujan api dari langit tidak hanya menerobos sistem pertahanan Iron Dome Israel, tetapi juga menjadi peringatan bahwa Iran bukan lagi sekadar pemain regional. Ia kini duduk di meja elit negara-negara yang memiliki teknologi rudal hipersonik, setara dengan Rusia dan Tiongkok.
Tak sekadar unjuk kekuatan, serangan tersebut juga menunjukkan realitas baru yang mengejutkan dunia militer: Iran kini justru mengoperasikan rudal hipersonik canggihnya. Berbeda dengan anggapan saat ini bahwa Iran mendapat bantuan dari Rusia atau Korea Utara, rudal Fattah diyakini merupakan hasil pengembangan dalam negeri. Laporan analis militer Israel dan Eropa menyebutkan bahwa rudal ini bukanlah replika, melainkan produk penelitian matang Iran. Faktanya, teknologi reentry vehicle (RV) Fattah dinilai terdepan dan inovatif.
Fattah memiliki jangkauan 1.400 km hingga 2.000 km untuk varian terbarunya, cukup untuk mencapai jantung Israel dalam waktu sekitar 400 detik. Melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 5 hingga bahkan Mach 15 saat di stratosfer membuatnya nyaris mustahil dicegat sistem pertahanan apa pun.
Fattah hanyalah salah satu dari banyak senjata di gudang rudal Iran. Dalam serangan ke Israel pada Oktober 2024 dan Juni 2025, Iran juga menggunakan Kheibar Shekan, rudal balistik jarak menengah generasi baru dengan jangkauan 1.450 km dan kemampuan manuver yang tinggi.
Selain itu, ada pula Emad-1, rudal balistik dengan teknologi maneuverable re-entry vehicle (MaRV), jangkauan 1.750 km, dan akurasi tinggi. Paveh, rudal jelajah canggih yang mampu mengubah jalur terbang untuk mengecoh radar, dengan jangkauan 1.650 km. Rudal lain ialah Ghadr-1, rudal balistik berbobot 19 ton yang mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir dengan daya jelajah hingga 1.950 km.
Terakhir, pada serangan Juni 2025 ini, Iran juga meluncurkan rudal paling anyar Haj Qasem yang memiliki jarak tempuh 1.300 km-1.400 km dengan kecepatan maksimum Mach 12. Video yang beredar di media memperlihatkan betapa rudal-rudal ini mampu menghantam wilayah Israel lolos dari sergapan pertahanan Iron Dome.
Hantaman rudal-rudal Iran, khususnya rudal hipersonik, telah mengubah kalkulasi militer Israel dan Barat. Kini, sistem pertahanan seperti Iron Dome Israel, Patriot Amerika, bahkan radar satelit AS, dianggap belum cukup. Israel dan sekutunya tengah meninjau ulang strategi, termasuk kemungkinan menyerang pangkalan peluncuran rudal Iran secara pre-emptive.
Padahal, Israel memiliki kekuatan militer yang sangat maju dan modern, didukung penuh oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Menurut data dari International Institute for Strategic Studies (IISS), jumlah pasukan aktif Israel mencapai 169.500 personel, didominasi oleh angkatan darat sebanyak 126.000 orang serta tambahan 400.000 tentara cadangan, dengan 360.000 di antaranya telah dimobilisasi sejak serangan Hamas pada 2023.
Dalam hal sistem persenjataan utama, Israel mengoperasikan sistem pertahanan berlapis termasuk Iron Dome, 1.300 tank dan kendaraan lapis baja, 345 jet tempur, drone canggih, dan kapal selam modern. Dengan anggaran pertahanan mencapai 24,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp. 389 triliun (setara 5,2 persen PDB), kekuatan militer Israel sangat unggul.
Berdasarkan Global Firepower, kekuatan militer Israel pada 2024 berada di peringkat ke-17 dunia. Peringkat ini mempertimbangkan sekitar 60 indikator, termasuk kekuatan logistik, ekonomi, dan geografi. Salah satu keunggulan strategis utama Israel adalah akses ke teknologi militer tercanggih dari Amerika Serikat, termasuk jet tempur siluman F-35A. Israel memiliki 39 unit F-35A aktif, bagian dari kontrak 75 pesawat dari Lockheed Martin. Selain tidak mudah terdeteksi radar, F-35 juga dilengkapi sistem persenjataan presisi tinggi.
Namun, Israel, sangat bergantung pada impor persenjataan dari Barat. AS merupakan pemasok utama, mencakup 65,6 persen dari total impor senjata Israel dalam periode 2019-2023. Selain itu, AS memberikan bantuan militer tahunan sebesar 3,8 miliar dollar AS selama 10 tahun, termasuk dana 500 juta dollar AS untuk pengembangan sistem pertahanan rudal, seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow.
Jerman berada di posisi kedua dalam daftar penyedia senjata ke Israel (29,7 persen), disusul oleh Italia (4,7 persen). Iron Dome, sistem pertahanan rudal yang dikembangkan bersama AS, menjadi andalan utama Israel dalam menghadapi roket-roket Hamas dan Hizbullah. Sebelum Iron Dome mulai beroperasi pada 2011, setiap serangan roket ke Israel merupakan ancaman besar. Serangan roket Hamas telah berlangsung sejak 2001, dan hingga Juni 2024, IDF mencatat sekitar 19.000 roket telah ditembakkan ke Israel. Jumlah itu belum termasuk rudal dari Iran dan sekutunya di Lebanon, Yaman, Libya, dan Suriah.
Dalam konteks ini, dukungan militer dari Amerika dan negara-negara Barat sangatlah penting. Tanpa bantuan ini, Israel kemungkinan besar akan mengalami kerusakan besar akibat serangan rudal Iran.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran rudal hipersonik dalam konflik Timur Tengah telah membawa ketegangan ke tingkat yang baru. Bukan hanya serangan yang cepat dan sulit dicegat, tapi juga dampak psikologisnya. Iran kini mampu menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bertahan, tapi juga bisa menyerang secara efektif dan presisi dalam waktu singkat.
Serangan ke Israel membuka mata dunia tentang transformasi militer Iran. Dari negara yang dulu dianggap hanya mampu berperang lewat proksi, kini Iran tampil sebagai kekuatan penuh dengan teknologi mutakhir. Fattah adalah simbol perubahan itu, senjata strategis yang memaksa musuh untuk berpikir dua kali sebelum menyerang.
Tak heran jika Israel menjadikan fokus untuk melumpuhkan pangkalan rudal dan infrastruktur produksi rudal Iran pada serangan kali ini. Keberhasilan Israel melumpuhkan pangkalan rudal ini akan mengurangi persediaan rudal Iran. Di sisi lain, kapasitas produksi rudal balistik Iran yang mencapai 50 rudal per bulan bakal terganggu dan tidak cukup mengimbangi laju serangan Israel.
Meski demikian, dengan terus berkembangnya teknologi rudal Iran, ancaman terhadap stabilitas regional dan global akan semakin kompleks. Di sinilah dunia harus bersiap: bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan menjumpai babak baru perang modern di era kekuatan rudal hipersonik yang memiliki kecepatan melebihi lima kali kecepatan suara.
Dalam catatan IISS, beberapa negara secara aktif mengembangkan atau memiliki rudal hipersonik, yakni AS, Rusia, China, dan Iran. Negara-negara lain yang juga sedang mengembangkan teknologi rudal hipersonik ialah Perancis, Jepang, Australia, Jerman, India, dan Korea Utara. Mereka bersaing menjadi yang paling canggih, dengan kecepatan menjadi keunggulan utama dan menentukan eksistensinya saat ini. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
M Toto Suryaningtyas
Editor:
Andreas Yoga Prasetyo
Penyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul
