:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516207/original/062066700_1772266394-5.jpg)
KBRI Teheran membenarkan adanya serangan bersenjata melalui udara di beberapa kota sekitar pukul 09.45 waktu setempat, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang dilansir Antara, Sabtu (28/2).
Advertisement
Yvonne mengatakan bahwa KBRI Tehran memfokuskan komunikasi intensif dengan WNI di Iran serta telah menerbitkan edaran terbaru yang memuat saran dan langkah konkret yang dapat ditempuh guna memastikan keselamatan dan keamanan mereka.
“Kita akan terus melakukan penilaian menyeluruh terhadap situasi keamanan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan WNI,” kata Yvonne.
Dia juga menyampaikan bahwa dalam keadaan darurat, WNI dapat segera menghubungi hotline KBRI Tehran.
Serangan
Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), media memberitakan Israel dan AS melancarkan serangan ke Iran. Serangan tersebut merupakan serangan kedua yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah serangan pertama ke Iran pada Juni 2025.
Trump menyatakan bahwa pasukan AS melancarkan operasi militer skala besar di Iran untuk melindungi rakyatnya dengan menghilangkan ancaman yang menurutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir Iran.
AS dan Iran telah melakukan tiga putaran perundingan program nuklir Iran secara tidak langsung yang dimediasi oleh Oman.
Putaran pertama dan kedua perundingan telah digelar awal bulan ini di Muscat dan Jenewa, yang berfokus pada pembatasan pengayaan dan persediaan uranium Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Sedangkan putaran ketiga dilakukan pada Kamis (26/2) di Jenewa.
Pada Jumat (27/2), Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al-Busaidi menyatakan perundingan nuklir AS-Iran menyepakati kebijakan tanpa penimbunan uranium yang diperkaya, dengan pengurangan stok ke tingkat terendah dan konversi menjadi bahan bakar permanen di bawah verifikasi penuh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

