Posted in

Fakta Kematian Bocah di Sukabumi yang Dipenuhi Cacing, Dedi Mulyadi Beri Sanksi Desa Cianaga

SUKABUMI, KOMPAS.TV – Tragedi memilukan terjadi di Desa Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Seorang balita bernama Raya (3) meninggal pada 22 Juli 2025 karena tubuhnya dipenuhi cacing.

Kasus ini mengundang perhatian luas publik, termasuk Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mengungkapkan rasa sedih sekaligus kecewa mendalam.

“Saya merasa prihatin dan sangat kecewa serta meminta maaf atas meninggalnya balita berusia tiga tahun yang tubuhnya dipenuhi cacing,” kata Dedi melalui akun Instagram miliknya, Selasa (19/8/2025).

Peristiwa ini menyoroti persoalan kemiskinan, kesehatan lingkungan, hingga lemahnya peran pemerintah desa dalam memastikan layanan kesehatan masyarakat berjalan optimal. Berikut rangkuman fakta kasus kematian Raya:

1. Meninggal dengan Tubuh Dipenuhi Cacing

Raya menghembuskan napas terakhir di RSUD Sekarwangi Cibadak, Sukabumi. Dari keterangan tim medis, tubuhnya dipenuhi cacing akibat infeksi parasit yang parah. Bahkan, menurut Gubernur Jabar, cacing keluar dari hidung korban saat dirawat.

“Anaknya setiap hari di basement. Dia meninggal di rumah sakit dengan keluar cacing dari hidungnya,” kata Dedi.

2. Hidup di lingkungan yang tidak sehat

Sejak kecil, Raya sering bermain di bawah kolong rumah bersama ayam dan kotorannya. Kebiasaan itu membuat kebersihan dirinya terabaikan dan memicu risiko masuknya parasit ke tubuh.

“Dia sejak balita sering berada di kolong rumah bersama ayam dan kotoran sehingga mungkin tangannya sering tidak dicuci dan mulutnya kemasukan cacing,” kata Dedi.

3. Orangtua dengan Kondisi Kesehatan Rentan

Keluarga Raya hidup dalam keterbatasan. Sang ibu, Endah (38), dilaporkan mengidap gangguan jiwa (ODGJ), sedangkan ayahnya, Udin (32), menderita tuberkulosis (TBC). Kondisi ini membuat pengasuhan terhadap Raya kurang terpantau.

“Kedua orangtuanya memiliki keterbelakangan mental, sehingga daya asuh terhadap anaknya kurang,” ungkap Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi.

4. Terkendala Administrasi, Tak Punya KK dan BPJS

Selain kendala kesehatan, keluarga Raya juga menghadapi kendala administratif. Mereka tidak memiliki Kartu Keluarga (KK) atau BPJS Kesehatan. Hal ini menghambat akses Raya terhadap layanan medis.

Meski sempat beberapa kali dibawa ke puskesmas dan klinik, pengobatan tidak maksimal karena dokumen resmi tak tersedia.

5. Dirawat 9 Hari Berkat Bantuan Filantropi

Sebelum meninggal, Raya dirawat selama sembilan hari di RSUD Sekarwangi. Perawatan ini baru bisa dilakukan setelah lembaga filantropi Rumah Teduh memberikan bantuan dengan menjemputnya menggunakan ambulans.

Sayangnya, meski diawasi secara intensif, kondisi kesehatan Raya tak kunjung membaik hingga akhirnya meninggal dunia.

6. Pemprov Jabar Menjatuhkan Sanksi ke Desa Cianaga

Atas kelalaian tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memutuskan memberikan sanksi tegas. Pencairan dana desa Cianaga ditunda sebagai bentuk hukuman atas kegagalan perangkat desa dalam menjalankan fungsi kesehatan masyarakat.

“Saya memutuskan terhadap desa itu memberikan hukuman. Saya tunda bantuan desanya karena desanya tak mampu urus warganya,” kata Dedi dalam rapat paripurna DPRD Jabar.

Ia menilai peran PKK, posyandu, hingga bidan desa tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Betapa kita gagap dan lalai. Perangkat birokrasi sampai tingkat RT ternyata tidak bisa membangun empati,” ujarnya.

7. Kasus Viral di Media Sosial

Kematian Raya makin menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan tubuhnya dipenuhi cacing tersebar di media sosial. Video tersebut memperlihatkan cacing yang keluar dari tubuhnya, sementara masih ada telur dan larva yang tertinggal.

Dikutip Kompas.com, Gubernur Dedi Mulyadi bahkan langsung memanggil Kepala Desa Cianaga serta orangtua Raya ke Gedung Pakuan, Bandung, untuk dimintai keterangan.

“Saya ditelepon staf ahli Pak Gubernur untuk hadir bersama orangtua Raya. Insyaallah besok kami hadir di Gedung Pakuan untuk memberikan keterangan,” ujar Kades Wardi.

Sumber : Kompas TV

Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *