
KOMPAS.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki fase paling mematikan setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan keberhasilan penghancuran Markas Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, Minggu (1/3/2026).
Serangan udara berskala besar ini diklaim telah melumpuhkan pusat saraf militer Teheran.
Dalam pernyataan resminya, militer AS menggunakan retorika keras untuk menggambarkan keberhasilan operasi yang menandai hari kedua kampanye militer gabungan AS-Israel tersebut.
CENTCOM menegaskan bahwa serangan ini adalah balasan atas sejarah panjang konfrontasi IRGC terhadap personel Amerika.
“Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah membunuh lebih dari 1.000 warga Amerika selama 47 tahun terakhir,” tulis pernyataan resmi CENTCOM sebagaimana dikutip dari Middle East Eye, Senin (2/3/2026).
Operasi ini disebut telah menghancurkan struktur komando tertinggi IRGC secara fisik.
“Kemarin, serangan besar-besaran AS memenggal kepala ular tersebut. Amerika memiliki militer terkuat di dunia, dan IRGC tidak lagi memiliki markas besar,” tambah pernyataan itu.
Serangan tidak hanya datang dari Washington. Militer Israel melaporkan telah menggempur puluhan titik krusial, mulai dari pusat komando intelijen, markas Angkatan Udara IRGC, hingga fasilitas keamanan internal.
Serangan sistematis ini dirancang untuk menciptakan kekacauan hierarki (disrupsi command and control).
Meski Teheran belum mengonfirmasi kehancuran total markas besarnya, pengakuan mengejutkan datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia mengakui adanya gangguan serius dalam jalur komunikasi militer negaranya.
Araghchi menyebutkan bahwa saat ini sejumlah unit militer Iran terpaksa beroperasi secara “independen dan agak terisolasi”, tapi tetap berpegang pada “instruksi umum yang telah diberikan sebelumnya.”
Situasi ini menyusul kabar tewasnya beberapa pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai tanggapan, Teheran melancarkan gelombang serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk yang merupakan sekutu AS.
Konfrontasi ini tidak tanpa biaya bagi pihak agresor. Hingga saat ini, dilaporkan tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya mengalami luka parah akibat serangan balasan Iran.
Secara geopolitik, IRGC bukan sekedar militer biasa; mereka mengendalikan program rudal balistik Iran, proksi regional, dan ekonomi strategis.
Penghancuran markas besar mereka secara teori akan melumpuhkan koordinasi antara Teheran dengan kelompok-kelompok sekutunya di Timur Tengah.
Namun, beroperasinya unit secara “independen” seperti yang disampaikan Menlu Araghchi justru meningkatkan risiko serangan yang tidak terprediksi karena hilangnya kendali pusat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership.
