
Viral Bukber SPPG Magelang di Hotel Bintang Tiga Tuai Sorotan
Salah satu akun Instagram @detik.berita mengunggah video tersebut yang kemudian memicu beragam komentar. Postingan tersebut menyoroti kontrasnya keluhan warga terkait kualitas paket Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kemewahan acara bukber SPPG.
Dalam keterangan unggahannya, akun tersebut menulis, “Sementara ribuan jempolwarga di media sosial masih sibuk mengetik komplain terkait kualitas paket Makan Bergizi Gratis (MBG)-mulai dari porsi yang “minimalis” hingga menu yang dianggap kurang memenuhi ekspektasi-pemandangan berbeda justru tersaji.
Tampaknya, SPPG ingin membuktikan secara nyata bahwa mereka sangat ahli dalam urusan pemenuhan gizi. Setidaknya, pemenuhan gizi untuk internal mereka sendiri terlebih dahulu sebelum merambah ke ompreng-ompreng siswa di sekolah.
Di tengah keluhan masyarakat mengenai nasi keras atau lauk pas-pasan dalam program MBG, acara bukber ini seolah menjadi pengingat bagi masyarakat: bahwa dalam urusan distribusi gizi, prinsip “self care” tetap menjadi nomor satu.
“Masyarakat kini hanya bisa berharap agar energi positif yang didapat dari santapan ini bisa disalurkan menjadi solusi nyata kualitas bekal bekal mahasiswa, bukan sekadar kumpulan foto di galeri ponsel.”
Menanggapi video yang viral, Asisten Lapangan (Aslap) SPPG Gondangsari, Ahmad Rifky Prayudhi, menjelaskan bahwa kegiatan bukber tersebut diadakan pada Sabtu, 21 Februari. Ia menambahkan bahwa acara tersebut berlangsung saat libur sekolah di awal bulan Ramadan.
“Kita buka bersama itu di tanggal 21 Februari karena proses edit dan lain sebagainya sehingga video itu baru bisa diupload tanggal 22. Padahal acaranya tanggal 21, bisa kita buktikan dari invoice kita di Hotel Sriti Magelang,” kata Rifky saat dihubungi detikJateng.
Rifky juga menjelaskan, acara bukber ini digelar sebelum kebijakan menu kering yang dimulai pada Senin, 23 Februari.
“Sejatinya itu yang pertama tadi saya sampaikan waktu itu di tanggal 21 (Februari). Jadi jauh sebelum menu itu (menu kering puasa) disorot oleh masyarakat. Karena di tanggal 23 Februari itu yang pertama perlu kita ketahui bersama (menu kering dimulai saat puasa Ramadan),” imbuhnya.
Menanggapi anggapan bahwa acara buka bersama di hotel terkesan mewah, Rifky menjelaskan bahwa hal itu bertujuan memberikan pengalaman bagi para pekerja, yang sebagian besar adalah warga setempat.
“Pertama, kita merekrut warga sekitar. Di mana diketahui bahwa SPPG Gondangsari itu kan salah satu SPPG yang tertinggi (lokasi dapurnya) di Kabupaten Magelang, secara wilayah itu di kaki Gunung Merbabu,” ujarnya.
“Kedua (anjuran BGN), untuk juga memperhatikan masyarakat yang masuk dalam kategori desil 1 sampai 3 (sebagai pekerja). Karena para pejuang kita atau kalau di luar mungkin namanya relawan, tapi kalau kami menyebutnya pejuang. Pejuang itu warga sekitar di mananotabenedi dataran tinggi atau di gunung, secara kategori ada di antara yang 1 sampai 3, maka banyak di antara mereka yang belum pernah merasakan yang namanya makanan hotel,” imbuh Rifky.
Rifky mengungkapkan bahwa dana untuk acara tersebut berasal dari mitra sebagai bentuk apresiasi terhadap pekerja SPPG. Ia juga menegaskan bahwa selama penyediaan menu kering Ramadan, pihaknya tidak menerima komplain.
“Alhamdulillah, kami itu dengan penerima manfaat kita itu jarang sekali ada yang namanya komplain terhadap menu makanan,” kata Rifky.
SPPG Gondangsari Pakis, lanjut Rifky, memproduksi MBG untuk 2.107 penerima manfaat dari jenjang TK hingga SMP. Terkait video yang viral, pihaknya masih menunggu konfirmasi dari media sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
“Kami memang belum melakukan langkah apapun, karena memang kami menunggu teman-teman media yang memang (mau konfirmasi). Jadi memang kami menunggu temen-temen yang dari media yang bonafide untuk konfirmasi ke kita. Karena kalau kemudian kita yang membuat klarifikasi dan lain-lain, kami malah takut blunder,” ujar Rikfy.
“Yang kita hadapi sehari-hari adalah penerima manfaat. Artinya, orang-orang yang kita bagi dari SPPG ini, ya itu yang harus kita perhatikan secara seksama. Bagaimana kita menyajikan dengan baik, bagaimana kita menyajikan menu yang bergizi, menangani komplain, menerima kritik dan saran. Bagaimana dengan momentum ini kita berbenah untuk menjadi lebih baik dalam memenuhi gizi penerima manfaat kita,” pungkasnya.
Sumber: detik.com
What’s Your Reaction?
0 Like
0 Dislike
0 Funny
0 Angry
0 Sad
0 Wow
