
Menanggapi hal itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberikan klarifikasi resmi. Manager Humas KAI Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta, Franoto Wibowo, memastikan bahwa operasional kereta api tetap berjalan aman dan terkendali.
Franoto menjelaskan bahwa dalam sistem konstruksi jalur kereta api terdapat standar teknis serta batas toleransi tertentu yang telah diperhitungkan secara matang melalui proses rekayasa teknik (engineering).
Menurutnya, apabila ditemukan beberapa komponen pengikat rel yang berkurang, kondisi tersebut tidak serta-merta membahayakan perjalanan kereta selama masih berada dalam parameter aman yang telah ditetapkan.
“Dalam sistem konstruksi jalur kereta api terdapat standar teknis dan batas toleransi tertentu yang telah diperhitungkan secara engineering,” jelasnya.
Artinya keberadaan pengait rel penting sebagai bagian dari sistem pengikat antara rel dan bantalan. Namun, sistem ini dirancang dengan margin keamanan tertentu sehingga tidak langsung berisiko ketika ditemukan sejumlah kekurangan.
Meski demikian, KAI tetap melakukan pengecekan dan penanganan terhadap temuan tersebut. Setiap laporan masyarakat, termasuk yang viral di media sosial, akan ditindaklanjuti oleh petugas untuk memastikan kondisi jalur tetap sesuai standar keselamatan.
KAI juga secara rutin melakukan inspeksi jalur rel guna memastikan seluruh komponen dalam kondisi layak dan aman untuk dilalui kereta.
Viralnya video bocah laki-laki yang melaporkan kondisi tersebut pun mendapat perhatian masyarakat sebagai bentuk kepeduliannya terhadap keselamatan transportasi umum. Prinsipnya, KAI mengapresiasi masyarakat yang proaktif melaporkan potensi gangguan di jalur kereta api.
Keselamatan perjalanan kereta api, menurut KAI, tetap menjadi prioritas utama dalam setiap operasional, khususnya di wilayah padat seperti Daop 1 Jakarta yang melayani ribuan perjalanan setiap hari.(dhil)
