
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali membuka kembali Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar, Senin (2/3/2026). Deretan truk sampah yang berjejer sejak Minggu (1/3/2026) mulai bergiliran masuk ke dalam area TPA. Hingga Senin sore, antrean mulai terurai.
Salah seorang sopir truk, Agus, mengaku senang dengan dibukanya kembali TPA Suwung. Dia dan para sopir truk lain harus menunggu berhari-hari untuk membuang sampah.
“Ya sudah lancar dah ini, akhirnya bisa beraktivitas kembali setelah beberapa hari menunggu kabar,” ujar pria asal Situbondo, Jawa Timur, itu.
GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI
Dia setiap hari membawa berton-ton sampah masyarakat di wilayah Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. Agus merasa frustrasi ketika harus menunggu lima hari di Jalan Raya Suwung hingga TPA dibuka.
“Sudah lima hari, dibuang saja (sekarang). Rata-rata ada yang berumur 4 sampai 6 hari,” kata Agus.
Dia juga harus menerima komplain dari warga lantaran sampah-sampah di rumah menumpuk. Menanggapi komplain pelanggan, Agus yang saat itu sudah pasrah hanya bisa meminta mereka mengecek langsung ke TPA Suwung agar paham kendala di lapangan.
“Ya sempat dikomplain, setelah dibuka, ya tetap kayak kemarin. Sebulan dua kali (mengambil sampah),” imbuhnya.
Hal serupa diungkapkan oleh sopir lainnya, Toha (37). Dia biasanya mengambil sampah di di area Jalan Gunung Salak mulai dari jam 04.00 Wita hingga baru bisa pulang bekerja pukul 19.00 atau 21.00 Wita. Sepekan terakhir, Toha harus menunggu berhari-hari di TPA Suwung.
“Sudah berhari-hari, ya ada masyarakat ngeluh tapi mau gimana lagi, keadaannya seperti ini. Kami juga di sini menunggu TPA dibuka, baru hari ini dibukanya,” ungkapnya.
Setelah dibuka, Toha mengaku senang karena bisa kembali beraktivitas. Sebab, semakin lama antre, maka pengeluaran akan semakin banyak. Dia bisa merogoh kocek sampai Rp 200 ribu untuk membeli makan dan rokok di sekitar lokasi.
“Iya seperti dulu, biasa saja (semoga), tidak ada antrean seperti ini, jadi jalan lancar. Kalau seperti ini, makan dan rokok akan dikenakan biaya Rp 200 ribu,” kata pengemudi asal Probolinggo, Jawa Timur itu.
(hsa/hsa)
