
“Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang seharusnya cukup dua minggu tetapi habis dalam dua hari. Mungkin dipakai keluarganya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa penurunan pola asuh diduga menjadi salah satu penyebab memburuknya kondisi Raya.
Bupati Sukabumi, Asep Japar, turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Raya. Ia mengungkapkan bahwa kondisi orang tua Raya sangat memengaruhi pola asuh. Sang ibu diketahui mengalami gangguan jiwa (ODGJ), sementara sang ayah mengidap penyakit TBC.
Namun Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegur keras Pemkab Sukabumi yang kurang sigap menangani kasus ini.
Kesehatan Raya terus menurun pada pertengahan Juli 2025. Pada 13 Juli, ia akhirnya dilarikan ke RS R. Syamsudin dalam kondisi kritis. Saat diperiksa, tim medis menemukan ada cacing yang keluar dari hidungnya dan mendiagnosis Raya menderita ascariasis parah. Penyakit ini diketahui telah menyebar ke paru-paru dan otak sehingga pengobatan medis menjadi sangat sulit.
Setelah menjalani perawatan intensif selama sembilan hari, kondisi Raya tidak kunjung membaik. Pada 22 Juli 2025, balita itu dinyatakan meninggal dunia.
Lebih lanjut, keterlambatan aktivasi BPJS keluarga Raya sempat menjadi kendala administrasi, meski pihak pemerintah daerah mengklaim sudah berupaya memberikan bantuan.
Kasus ini menjadi perhatian luas masyarakat dan memunculkan kritik terhadap lemahnya sistem deteksi dini gizi buruk di daerah. Hal ini sekaligus menegaskan pentingnya edukasi pola asuh keluarga, pemerataan pelayanan kesehatan, serta langkah konkret pemerintah untuk mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
