
Dialog terbuka yang digelar di Balai Desa Banyutengah itu menjadi titik balik. Kedua belah pihak sepakat berdamai dan mengakhiri perselisihan yang sempat memicu keresahan masyarakat.
Pertemuan berlangsung hangat namun serius. Hadir Wakapolres Gresik Kompol Shabda Purusha Putra, jajaran pejabat utama Polres Gresik, Camat Panceng Muhammad Sampurno, Babinsa, tokoh masyarakat, hingga perwakilan pemuda dari dua desa yang sebelumnya terlibat gesekan.
Dalam arahannya, AKBP Ramadhan Nasution menyayangkan insiden yang mencoreng suasana Ramadan tersebut. Ia menegaskan, kepolisian bergerak cepat mengamankan pelaku sebagai bentuk komitmen penegakan hukum yang tegas dan profesional.
“Polri tidak ada apa-apanya tanpa dukungan masyarakat. Kami berharap perwakilan warga yang hadir malam ini dapat mengendalikan warganya masing-masing agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegas Kapolres.
Ia juga menyoroti maraknya isu provokatif serta ajakan balas dendam yang beredar melalui media sosial. Masyarakat diingatkan agar tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi demi menjaga stabilitas keamanan bersama.
Respons cepat aparat pun mendapat apresiasi dari perwakilan warga Desa Campurejo. Mereka mengangkat prinsip “ojo wani-wani, ojo wedi-wedi” (jangan asal berani, jangan asal takut) sebagai pengingat agar masyarakat tetap tenang, bijak, dan tidak mudah tersulut emosi.
Senada, perwakilan warga Desa Banyutengah memastikan bahwa kabar tentang adanya pergerakan massa yang sempat beredar luas merupakan hoaks. Mereka menegaskan komitmen untuk menutup lembaran konflik.
Kami mohon maaf atas kegaduhan yang terjadi, ke depan mari kita saling berbenah. Kami berharap seluruh elemen desa juga menyampaikan bahwa situasi aman sehingga warga tidak lagi merasa takut, kata salah satu tokoh masyarakat Banyutengah.
Mediasi ditutup dengan aksi simbolis saling bersalaman antarperwakilan warga. Sesi foto bersama menjadi penanda berakhirnya ketegangan. Malam itu, balai desa yang sebelumnya diselimuti kekhawatiran berubah menjadi ruang penuh komitmen menjaga persatuan.
Langkah mediasi ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi terpeliharanya kerukunan dan stabilitas kamtibmas di wilayah Kecamatan Panceng secara berkelanjutan.
Kronologi Tawuran Berdarah
Sebelumnya, tragedi berdarah saat patroli subuh menghebohkan warga Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jumat (27/2) dini hari. Dua orang dilaporkan ditikam saat terjadi tawuran antar desa.
Bentrokan terjadi sekitar pukul 00.30 WIB di Desa Campurejo, tepatnya di depan gedung billiard dan kafe. Peristiwa tersebut melibatkan kelompok pemuda dari Desa Campurejo dan Desa Banyutengah.
Awalnya rombongan pemuda Campurejo melakukan kegiatan patroli sahur dan bertemu dengan pemuda Banyutengah. Saat bertemu, kedua kelompok saling melempar bom air. Argumen tidak bisa dihindari.
Situasi memanas. Pemuda Campurejo sempat mundur meninggalkan lokasi. Namun, kelompok dari Banyutengah mendatangi rombongan tersebut.
Singkat cerita, terjadilah tawuran. Salah satu pemuda mengeluarkan senjata tajam dan menebas dua pemuda Desa Campurejo.
Akibat kejadian itu, dua pemuda Desa Campurejo, Moh. Ruhul Madani, 25, dan Wahyu Agung Pratama, 24, mengalami luka bacok. Kini, aparat memastikan situasi telah
kondusif dan proses hukum tetap berjalan.(*)
