
BEIRUT (gokepri) — Israel memperluas serangan udara ke Teheran dan wilayah selatan Beirut, Lebanon, pada Senin (2/3). Sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung berminggu-minggu.
Eskalasi ini memperluas konflik yang sejak Sabtu (28/2) melibatkan Israel dan Amerika Serikat melawan Iran, dan kini menyeret kelompok Hizbullah di Lebanon.
Militer Israel menyatakan menyerang target intelijen, keamanan, dan pusat komando militer di Teheran. Pada Minggu malam, Israel mengklaim telah menguasai superioritas udara di atas ibu kota Iran.
Di Lebanon, lebih dari selusin ledakan mengguncang wilayah selatan Beirut yang dikuasai Hizbullah. Israel menyebut serangan itu menyasar militan senior. Warga melarikan diri dengan berjalan kaki dan kendaraan, memadati jalan-jalan kota sejak sekitar pukul 02.40 dini hari.
Hizbullah sebelumnya mengakui meluncurkan rudal dan drone ke Israel sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Militer Israel menyatakan telah mencegat satu proyektil dari Lebanon, sementara lainnya jatuh di area terbuka.
Israel dan Lebanon sebenarnya menyepakati gencatan senjata yang dimediasi AS pada 2024 setelah lebih dari setahun pertempuran. Serangan terbaru menandai memburuknya situasi secara drastis.
Di Iran, Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan dewan kepemimpinan sementara mengambil alih tugas pemimpin tertinggi setelah kematian Khamenei. Kekosongan ini telah menimbulkan ketidakpastian politik di Teheran.
Sirene serangan udara terdengar di berbagai kota Israel, termasuk Tel Aviv, ketika Iran kembali menembakkan rudal.
Amerika Serikat mengkonfirmasi tiga personel militer tewas di sebuah pangkalan di Kuwait, menjadi korban pertama dari operasi besar yang dimulai pada hari Sabtu. Trump menyebut mereka “patriot sejati” dan memperingatkan kemungkinan adanya korban tambahan.
Dalam video yang dirilis Minggu, Trump menegaskan serangan akan berlanjut sampai “semua tujuan tercapai”. Ia menyatakan operasi telah menghancurkan komando militer Iran serta sembilan kapal angkatan laut.
Militer AS menyebut lebih dari 1.000 target Iran telah diserang sejak operasi dimulai. Trump juga menyerukan militer dan aparat keamanan Iran untuk menyerah, menjanjikan kekebalan bagi yang berhenti melawan dan mengancam “kematian pasti” bagi yang bertahan.
Konflik ini mengguncang kawasan. Garda Revolusi Iran mengklaim menyerang tiga tanker minyak AS dan Inggris di Teluk serta pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain.
Data pelayaran menunjukkan ratusan kapal, termasuk kapal tanker minyak dan gas, berlabuh di perairan sekitar Teluk dan Selat Hormuz. Maskapai penerbangan global membatalkan rute setelah bandara utama Timur Tengah, termasuk Dubai, ditutup.
Meski Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memberi isyarat terbuka untuk meredakan ketegangan, ia juga menyatakan negaranya siap melanjutkan perlawanan.
Para analis menilai kematian Khamenei menjadi pukulan besar bagi struktur kekuasaan Iran. Namun dominasi ulama dan pengaruh Garda Revolusi tidak serta-merta runtuh. Respons publik Iran terhadap perubahan ini masih belum dapat dipastikan. REUTERS
