
Rapat tersebut dihadiri Wakapolres Kompol Shabda Purusha Putra, jajaran pimpinan Polres Gresik, Camat Panceng Muhammad Sampurno, Babinsa, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemuda kedua desa tersebut. Melalui dialog terbuka, kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dan mengakhiri perselisihan yang sempat memicu kerusuhan.
Dalam arahannya, Kapolres menyayangkan terjadinya gesekan antarwarga. Ia menegaskan kepolisian telah bergerak cepat dengan mengamankan pelaku sebagai bentuk penegakan hukum yang tegas dan profesional.
“Polri tidak ada apa-apanya tanpa dukungan masyarakat. Kami berharap warga bisa mengendalikan lingkungannya masing-masing agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Kapolres juga mengingatkan masyarakat agar tidak terpancing isu provokatif dan ajakan balas dendam yang beredar di media sosial. Ia meminta warga lebih bijak menyaring informasi demi menjaga stabilitas keamanan.
Perwakilan warga Campurejo mengapresiasi respons cepat Polres Gresik. Mereka mengingatkan prinsip “ojo wani-wani, ojo wedi-wedi” sebagai pegangan agar masyarakat tetap tenang dan tidak mudah tersulut emosi.
Sementara itu, tokoh masyarakat Banyutengah memastikan kabar adanya pergerakan massa yang sempat beredar luas adalah hoaks. Ia menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi dan mengajak seluruh elemen desa menyampaikan bahwa situasi sudah aman dan kondusif.
Mediasi ditutup dengan saling bersalaman sebagai simbol perdamaian, dilanjutkan dengan foto bersama. Pertemuan berlangsung hangat dan penuh komitmen menjaga persatuan demi stabilitas keamanan dan jaminan sosial di Kecamatan Panceng.
