
Selain untuk memperkuat solidaritas, kunjungan ke hotel-hotel mewah juga digunakan untuk memperkenalkan standar penyajian makanan yang profesional kepada para pekerja. Rifky mengatakan, mayoritas pekerja berasal dari latar belakang ekonomi rendah dan merupakan warga pegunungan yang jarang bersentuhan dengan layanan hotel. Melalui pengalaman langsung ini, mereka diharapkan mampu menyerap ilmu estetika kuliner untuk diterapkan pada menu sehari-hari. “Ini sebagai bentuk apresiasi dari mitra, karena bukber ini penuh dengan dana dari mitra. Ini sebagai bentuk apresiasi agar sebelum mereka melaksanakan menu kering,” kata Rifky saat menjelaskan tujuan utama acara. Ia juga menambahkan, mengolah menu kering memiliki tantangan tersendiri, mulai dari proses pengemasan hingga pengaturan komposisi nutrisi yang tepat. Selain jamuan makan, para pekerja juga mendapatkan hadiah uang tunai melalui berbagai permainan interaktif.
Dampak positif dari kegiatan di hotel tersebut langsung terlihat pada inovasi menu yang mulai didistribusikan sejak Senin (23/2). Salah satu terobosan baru adalah menu ketan susu keju yang terinspirasi dari hidangan penutup di hotel, menggantikan sajian ketan serundeng tradisional. Selain itu, pada tanggal 25 Februari, tim SPPG juga berhasil mengkreasikan puding buah dengan tampilan visual yang jauh lebih menarik dan elegan layaknya sajian kelas atas.
Saat ini, SPPG Gondangsari Pakis bertanggung jawab melayani kebutuhan gizi bagi 2.107 penerima manfaat setiap harinya yang mencakup jenjang pendidikan TK hingga SMP. Meski sempat diterpa isu miring akibat video viral, pihak pengelola mengklaim tingkat kepuasan terhadap layanan mereka tetap terjaga dengan sangat baik. Rifky menegaskan bahwa selama ini hampir tidak pernah ada keluhan atau komplain resmi dari masyarakat terkait kualitas rasa maupun menu makanan.
Menanggapi kegaduhan di dunia maya, pihak SPPG Gondangsari memilih untuk tetap tenang dan menunggu konfirmasi dari media massa yang kredibel. Mereka menghindari pemberian klarifikasi sepihak di media sosial demi mencegah timbulnya kesalahpahaman atau blunder informasi yang lebih luas. Langkah profesional ini diambil agar fokus utama pelayanan gizi bagi ribuan siswa di wilayah Pakis tidak terganggu oleh polemik yang sedang berkembang.

