
Beredar video para pekerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gondangsari, Pakis, Kabupaten Magelang, menggelar buka bersama (bukber) di salah satu hotel bintang tiga di Kota Magelang. Pihak SPPG pun buka suara soal sorotan tersebut.
Momentum bukber tersebut viral di berbagai media sosial baik X, TikTok maupun Instagram. Publik saat ini tengah menyoroti menu kering yang dibagikan kepada penerima manfaat saat puasa Ramadan.
Video tersebut salah satunya diunggah dalam akun instagram @fakta.berita sehari lalu.
“Sementara ribuan jempolwarga di media sosial masih sibuk mengetik komplain terkait kualitas paket Makan Bergizi Gratis (MBG)-mulai dari porsi yang “minimalis” hingga menu yang dianggap kurang memenuhi ekspektasi-pemandangan berbeda justru tersaji.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jarakan, Gondangsari, Pakis, Magelang baru saja menggelar acara Buka Puasa Bersama yang jauh dari kesan “prihatin”. Video yg beredar memperlihatkan jajaran menu prasmanan, dekorasi estetik dan senyum sumringah para pegawai di balik meja-meja penuh gizi tinggi.
Tampaknya, SPPG ingin membuktikan secara nyata bahwa mereka sangat ahli dalam urusan pemenuhan gizi. Setidaknya, pemenuhan gizi untuk internal mereka sendiri terlebih dahulu sebelum merambah ke ompreng-ompreng siswa di sekolah.
Di tengah riuhnya keluhan masyarakat soal nasi keras atau lauk yang sekadarnya dalam program MBG, acara bukber ini seolah menjadi pengingat bagi publik: bahwa dalam urusan distribusi gizi, prinsip “self care” tetap nomor satu.
Publik kini hanya bisa berharap, semoga energi positif yang didapat dari santapan tersebut bisa menular menjadi solusi nyata bagi kualitas kotak makan siang siswa, bukan sekadar menjadi koleksi foto di galeri ponsel,” tulis keterangan unggahan itu seperti dilihat detikJateng, Minggu (1/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konfirmasi Pihak SPPG
Terkait video viral tersebut, Asisten Lapangan (Aslap) SPPG Gondangsari, Ahmad Rifky Prayudhi mengatakan, kegiatan buber tersebut digelar pada Sabtu (21/2). Ia mengatakan, bukber tersebut digelar saat libur sekolah di awal puasa Ramadhan.
“Kita buka bersama itu di tanggal 21 Februari karena proses edit dan lain sebagainya sehingga video itu baru bisa diupload tanggal 22. Padahal acaranya tanggal 21, bisa kita buktikan dari invoice kita di Hotel Sriti Magelang,” kata Rifky saat dihubungidetikJateng.
Rifky lalu menjelaskan soal sorotan terhadap kualitas menu kering MBG selama Ramadan. Menurutnya, acara bukber itu digelar sebelum ada kebijakan menu kering dimulai pada Senin (23/2).
“Sejatinya itu yang pertama tadi saya sampaikan waktu itu di tanggal 21 (Februari). Jadi jauh sebelum menu itu (menu kering puasa) disorot oleh masyarakat. Karena di tanggal 23 Februari itu yang pertama perlu kita ketahui bersama (menu kering dimulai saat puasa Ramadan),” imbuhnya.
Pihaknya juga buka suara soal acara buka bersama yang digelar di hotel dinilai bermewah-mewah. Dia menyebut hal itu untuk memberikan pengalaman bagi para pekerja yang notabene warga setempat.
“Pertama, kita merekrut warga sekitar. Di mana diketahui bahwa SPPG Gondangsari itu kan salah satu SPPG yang tertinggi (lokasi dapurnya) di Kabupaten Magelang, secara wilayah itu di kaki Gunung Merbabu,” ujarnya.
“Kedua (anjuran BGN), untuk juga memperhatikan masyarakat yang masuk dalam kategori desil 1 sampai 3 (sebagai pekerja). Karena para pejuang kita atau kalau di luar mungkin namanya relawan, tapi kalau kami menyebutnya pejuang. Pejuang itu warga sekitar di mananotabenedi dataran tinggi atau di gunung, secara kategori ada di antara yang 1 sampai 3, maka banyak di antara mereka yang belum pernah merasakan yang namanya makanan hotel,” imbuh Rifky.
Dia mengungkap sumber pendanaan untuk buka bersama itu berasal dari mitra sebagai bentuk apresiasi terhadap pekerja SPPG. Pihaknya pun memastikan selama membuat menu kering Ramadan tidak mendapat komplain.
“Alhamdulillah, kami itu dengan penerima manfaat kita itu jarang sekali ada yang namanya komplain terhadap menu makanan,” kata Rifky.
Dia menjelaskan SPPG Gondangsari Pakis memproduksi MBG untuk 2.107 penerima manfaat yang terdiri dari jenjang TK sampai SMP. Kemudian terkait dengan video tersebut, pihaknya belum mengambil langkah apapun.
“Kami memang belum melakukan langkah apapun, karena memang kami menunggu teman-teman media yang memang (mau konfirmasi). Jadi memang kami menunggu temen-temen yang dari media yang bonafide untuk konfirmasi ke kita. Karena kalau kemudian kita yang membuat klarifikasi dan lain-lain, kami malah takut blunder,” ujar Rikfy.
“Yang kita hadapi sehari-hari adalah penerima manfaat. Artinya, orang-orang yang kita bagi dari SPPG ini, ya itu yang harus kita perhatikan secara seksama. Bagaimana kita menyajikan dengan baik, bagaimana kita menyajikan menu yang bergizi, menangani komplain, menerima kritik dan saran. Bagaimana dengan momentum ini kita berbenah untuk menjadi lebih baik dalam memenuhi gizi penerima manfaat kita,” pungkasnya.
(ams/ams)
