
KOMPAS.com – Militer Israel melancarkan serangan ke Lebanon setelah Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai balasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Sabtu (28/2/2026).
Serangan itu terjadi pada Senin (1/3/2026) pagi waktu setempat.
Namun, wilayah tempat tinggal warga sipil juga terkena dampaknya.
Sementara jurnalis BBC Alice Cuddy melaporkan sejumlah warga di Lebanon terpaksa mengungsi imbas serangan Israel.
“Ini benar-benar menyedihkan,” kata seorang pria pemilik toko di Lebanon yang berusia 55 tahun, dilansir dari BBC.
Kami sedang duduk-duduk di rumah dan tiba-tiba hal ini terjadi. Kami kaget dan langsung berkemas, membangunkan anak-anak, dan masuk ke dalam mobil. Sekarang kami terjebak di jalan yang diblokir karena evakuasi besar-besaran dari arah selatan, tambahnya.
Ayah dari tiga anak itu, yang meminta namanya dirahasiakan, mengatakan bahwa dia mengemudi tanpa mengetahui tujuan kepergian mereka.
“Kami lelah harus meninggalkan rumah dan tanah kami berulang kali,” katanya.
Sementara itu, militer Israel telah menyerukan kepada warga di puluhan desa di Lebanon timur dan selatan untuk segera mengungsi karena besar kemungkinan adanya serangan lanjutan.
Menindaklanjuti gempuran Israel di Lebanon Presiden negara itu, Joseph Aoun tak tinggal diam.
Dia mengatakan, serangan yang dilancarkan Hizbullah ke Israel dari Lebanon melemahkan upaya pemerintah untuk menjauhkan negara itu dari konfrontasi militer yang berbahaya.
Tindakan ini juga mengecam agresi Israel terhadap Lebanon.
“Kami mengutuk serangan Israel di wilayah Lebanon, dan memperingatkan bahwa terus menggunakan Lebanon sebagai platform untuk mendukung perang yang tidak ada hubungannya dengan kami akan sekali lagi membuat negara kami menghadapi risiko,” tegasnya, dikutip Al Jazeera.
Kementerian Dalam Negeri Lebanon di Bahrain menyatakan telah mengaktifkan peringatan serangan udara dan mendesak warganya untuk mengungsi ke tempat aman terdekat.
