:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2026/02/23/7a1c16bc-4289-449b-862d-2feeeb781879.jpg)
Iran menyebut pulau-pulau di Selat Hormuz tak bisa dikalahkan. Bak kapal induk, pulau jadi pangkalan drone, kapal rudal, rudal darat, kapal selam, dan ranjau laut.
AFP
Situasi Timur Tengah sedang menghangat. Iran menegaskan, mereka bukan negara yang mudah ditekan. Meski Amerika Serikat unggul dalam teknologi dan kekuatan senjata, dan kini mengepung Iran, Kepala Staf Angkatan Laut Iran Laksamana Alireza Tangsiri menegaskan, militer Iran siap menghadapi segala kemungkinan.
Iran semakin percaya diri mempersiapkan pertahanan negaranya. Dalam pemberitaan kantor berita Turki, Anadolu, Selasa (17/2/2026), Tangsiri menyebutkan Iran memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz yang menjadi titik penting ekspor migas dunia.
Iran, menurut Tangsiri, mengontrol sepenuhnya permukaan dan bawah laut perairan Selat Hormuz dan Laut Persia. Bagian paling sempit Selat Hormuz hanya selebar 34 kilometer, rentang yang dengan mudah dijangkau oleh tembakan artileri berkaliber besar milik Teheran. Jalur pelayaran di Selat Hormuz dibagi dua selebar 2 mil (3,2 kilometer) untuk arah masuk dan keluar kawasan Teluk.
”Pulau-pulau kecil milik Iran di Selat Hormuz adalah benteng yang tidak bisa ditembus dan dihancurkan. Pulau dimaksud adalah Abu Musa, Tunb, Siri, dan yang terbesar Qeshm,” ujar Tangsiri.
Pulau-pulau itu ibarat ”kapal induk” bagi Iran yang mengawasi arus lalu lintas keluar masuk Selat Hormuz. Armada Angkatan Laut AS pun mau tidak mau ketika berlayar ke pangkalan di negara Teluk berada dalam jangkauan serangan Iran dari pulau-pulau yang hanya berjarak 40-50 kilometer dari pesisir Uni Emirat Arab (UEA), sekutu AS. Selain itu, Iran juga memiliki kapal induk pengangkut drone yang dikonversi dari sebuah kapal niaga.
Dari pulau-pulau tersebut, stasiun radar, rudal, kapal cepat berpeluru kendali (kapal Kamikaze), ranjau laut, pangkalan kapal selam bermesin diesel, armada ribuan drone dapat diluncurkan untuk mencapai sasaran di selat sempit tersebut. Tidak ada ruang gerak bebas bagi kapal perang berukuran besar di alur sempit Selat Hormuz.
Kebanggaan dan rasa percaya diri Iran sepertinya bukan sekedar omong kosong belaka. Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine menjelaskan faktor risiko serangan terhadap Iran. The Washington Post edisi Senin (23/2/2026) mengutip pernyataan Caine pada pertemuan Presiden Donald Trump di Gedung Putih yang mengungkap masalah kekurangan amunisi strategis dan rendahnya dukungan Sekutu. Kondisi inilah yang menjadi permasalahan bagi operasi militer AS terhadap Iran kali ini.
Dan Caine menyampaikan kekhawatirannya saat bertemu Presiden Trump dan para pejabat tinggi AS. Sumber daya militer AS sudah terkuras untuk membantu Ukraina dan terutama Israel.
Dominasi Iran sebagai kekuatan regional disadari negara-negara tetangga yang juga memiliki sumber daya keuangan dan militer, salah satunya UEA. Kedutaan UEA untuk AS melaporkan, Iran dapat sewaktu-waktu memblokade Selat Hormuz melalui pulau-pulau yang dikuasai sejak tahun 1971 itu.
UEA mencatat, di Pulau Abu Musa, militer Iran memantau pelayaran internasional, Pulau Tunb Besar dan Kecil sepenuhnya dijadikan instalasi militer untuk proyeksi kekuatan di Teluk Persia. Terdapat pangkalan-pangkalan utama pasukan Garda Revolusi Iran di sana.
Pangkalan utama untuk mengendalikan Selat Hormuz terdapat di Pulau Qeshm. Pulau tersebut merupakan basis operasional, logistik, serta penampungan rudal balistik Iran berikut pertahanan udara. Tak jauh dari Qeshm terdapat pelabuhan utama Iran, yakni Bandar Abbas.
Kesiapan dan kendali Iran itu diperhatikan saksama oleh Israel yang bertahun-tahun mendorong AS untuk menghabisi Iran. Dalam laporan The Jerusalem Times, 2 Juli 2025, Israel memantau pergerakan kapal-kapal Garda Revolusi Iran dengan berbagai ranjau laut. Per tahun 2019, dalam data intelijen Israel, sekurangnya Iran memiliki 5.000 ranjau laut yang bisa digunakan menutup Selat Hormuz.
Di sisi lain, Pangkalan Armada Ke-5 AL AS terdapat di Bahrain yang harus melintasi Selat Hormuz. Armada Ke-5 di Bahrain hanya memiliki empat kapal penyapu ranjau.
Menurut Israel, jika Iran menutup total Selat Hormuz, hal itu akan berdampak pada kekacauan ekonomi dunia. Sekurangnya 20 persen ekspor minyak dunia melalui Selat Hormuz dan 69 persen pasokan minyak itu ditujukan ke India, China, Jepang, dan Korea Selatan.
Pada 22 Juni 2025, sesaat setelah AS mengebom pusat pengembangan nuklir damai Iran, Parlemen Iran sudah mengusulkan untuk menutup Selat Hormuz. Ketika itu, kapal-kapal antiranjau AS justru digeser menjauh dari Bahrain untuk mengantisipasi serangan balasan Iran ke Pangkalan Militer AS di kawasan Teluk.
Lembaga kajian Alma di Israel dalam laporan 3 Januari 2023 mengungkapkan, di Pulau Qeshm, Iran membangun pangkalan peluncuran drone Shahed 171 dan Saegheh 1 (dikembangkan dari drone AS RQ 170 buatan Lockheed Martin) yang berhasil dijatuhkan Iran.
Selain itu, kajian Alma menduga ada pangkalan kapal selam tersembunyi milik Iran di Pulau Qeshm. Kapal selam kelas Kilo bermesin diesel buatan Rusia itu, jika bergerak dengan baterai, nyaris tidak bisa dideteksi lawan.
Lalu, terdapat pulau galangan kapal besar Qeshm Madkandaloo Shipbuilding di sana. Galangan tersebut membuat aneka kapal perang untuk pasukan Garda Revolusi Iran.
Dengan segudang persiapan, Iran merasa percaya diri menjadi kekuatan regional terutama dalam mempertahankan diri dari serangan asing. Berbagai persenjataan Iran dibuat massal dengan biaya lebih murah dari senjata buatan Barat. Strategi serangan dalam kerumunan (swarm attack) diyakini bisa membobol sistem persenjataan Barat yang unggul kualitas, tetapi bisa jadi kalah dalam jumlah.
Dalam latihan perang AS bertajuk Millenium Challenge tahun 2002, dilakukan simulasi armada AS melawan Iran. Hasilnya, belasan kapal dan kapal induk AS tenggelam. Akhirnya latihan tersebut dihentikan Pentagon dan skenario diganti.
Skenario awalnya adalah Angkatan Laut AS (Tim Biru) melawan Tim Merah negara lawan di Timur Tengah yang sebenarnya mengacu pada Iran.
Popular Mechanics dalam laporan berjudul “AS Kalah dalam Perang (Fiksi) Melawan Iran 18 Tahun Lalu”, Januari 2020, menceritakan tentang Jenderal Marinir (Purn) Paul van Riper yang memimpin Tentara Merah (Iran). Van Riper menggunakan berbagai senjata dan pangkalan di pesisir pantai dan Selat Hormuz untuk menghabisi armada AS.
Van Riper yang dikenal berpikir out of the box, melakukan penyerangan sebelum serangan pendahuluan dilakukan Angkatan Laut AS. Rudal darat, segerombolan kapal cepat bersenjata rudal, dan pesawat tempur mematikan komunikasi radio untuk menyerang, akibatnya AS kewalahan.
Sebagai ”Panglima” Iran, Van Riper menenggelamkan 19 kapal AS AL meliputi kapal induk, kapal penjelajah, lima kapal amfibi.
AS semula menilai lawan akan menunggu diserang dan mempertahankan diri. Sebaliknya, Van Riper malah menyerang duluan begitu armada AS dalam jangkauan serangannya di pesisir Iran dan Selat Hormuz.
Kini, memasuki tahun 2026, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine juga memberikan peringatan serius tentang kerumitan operasi militer terhadap Iran dan perhitungan besaran korban di pihak AS. ”Saya bertanggung jawab memberi pertimbangan atas dampak dan risiko yang terjadi. Itu disampaikan secara rahasia,” kata Caine.
(Reuters)
Penulis:
Iwan Santosa
Editor:
Kris Mada, Bonifasius Josie Susilo H
Penyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul
