
Ledakan Petasan Berujung Maut di Ponorogo: Tim Gegana Temukan Belerang dan Potasium
Tim Brimob menyelidiki penyebab dan bahan-bahan yang mengakibatkan satu nyawa melayang, dua lainnya terluka.
PONOROGO, SJP – Unit Gegana Brimob Polda Jatim melakukan investigasi ledakan petasan di Desa Plosojenar, Ponorogo, Jawa Timur Senin (2/3/2026). Tim Brimob menyelidiki penyebab dan bahan-bahan yang mengakibatkan satu nyawa melayang, dua lainnya terluka.
Komisaris Polisi Dyan Vicky Sandhi dari Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim mengungkapkan, tim investigasi menemukan adanya belerang dan potasium nitrat (KNO3), yang dikenal sebagai booster kelengkeng, di lokasi kejadian. Bahan-bahan tersebut diklasifikasikan sebagai low explosive, namun jumlah yang signifikan meningkatkan potensi ledakannya menjadi sangat kuat.
Sandhi mengungkapkan, ledakan yang terjadi di luar bangunan itu membuat tekanan tidak terlalu besar, tapi kawah selebar 5 cm menunjukkan ada sesuatu yang sedang dirakit dengan serius.
“Proses investigasi masih terus dilakukan untuk menentukan asal-usul bahan dan potensi adanya unsur kelalaian atau pelanggaran regulasi dalam kejadian tersebut, untuk menetapkan tindakan korektif yang tepat,” katanya.
Seperti diketahui, ledakan yang terjadi di Desa Plosojenar, Ponorogo merenggut nyawa Rifai Kurnia Putra (15). Dua korban lainnya, Hindar Agusta (23) mengalami luka bakar 16 persen di bagian wajah dan tangan, sedangkan Ahmad Fato’ani (20) mengalami luka bakar 36 persen di bagian wajah, tangan, dan kaki. Kedua korban memerlukan perawatan medis segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Bonari, warga setempat menerangkan bahwa aktivitas merakit petasan di rumah tersebut telah menjadi perhatian masyarakat karena sudah sering diperingatkan sebelumnya, namun peringatan warga diabaikan. Ledakan yang terjadi menunjukkan kurangnya kesadaran akan risiko keselamatan.
Kemungkinan besar mereka sedang dalam proses peracikan bahan, dan menggunakan pipa PVC sebagai wadah atau saluran, yang kemudian memicu ledakan, ujarnya.
Menurut Bonari, rumah tersebut sering digunakan sebagai lokasi pertemuan sejumlah pemuda, khususnya menjelang perayaan Lebaran, dan secara rutin dijadikan tempat pembuatan balon udara serta petasan setiap tahunnya.
“Ledakannya sangat kuat, mirip dengan ledakan bom, dan asap tebal langsung menyelimuti area rumah,” katanya. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Penulis: Paskalis Arakat, Mahasiswa Magang Unitri.
Editor: Danu
