Posted in

Lebanon di Ujung Tanduk Konflik AS–Iran

Lebanon di Ujung Tanduk Konflik AS–Iran

26 Februari 2026

Burcu Ozcelik, peneliti senior keamanan Timur Tengah di Royal United Services Institute (RUSI), menilai Iran “hampir pasti mengharapkan kontribusi Hizbullah bila perang pecah—kemungkinan besar dengan menekan Israel,” katanya. Namun, menurut dia, Hizbullah kini menghadapi lanskap domestik yang jauh lebih rumit.

“Desakan integrasi oleh Presiden Lebanon Joseph Aoun dan kepentingan jangka panjang Hizbullah sebagai aktor politik di dalam negeri, menambah ongkos sebuah perang terbuka,” imbuh Ozcelik.

Terbelah dan melemah

Hizbullah, yang sayap militernya diklasifikasikan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, Jerman, dan sejumlah negara lainnya, mulai menyerang Israel sehari setelah Hamas melancarkan teror pada 7 Oktober 2023.

Gencatan senjata pada November 2024 mengakhiri 11 bulan bentrokan dan dua bulan perang terbuka antara Israel dan Hizbullah. Dalam periode itu, Israel menewaskan sebagian besar pimpinan Hizbullah serta menghancurkan infrastruktur dan gudang senjatanya. Wilayah selatan Lebanon dan sebagian Beirut luluh lantak. Sekitar 4.000 orang tewas. Bank Dunia memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai USD11 miliar atau sekitar Rp184 triliun.

Israel menegaskan tak akan berhenti menargetkan Hizbullah selama masih menebar ancaman. Hizbullah sendiri merupakan bagian dari ‘poros perlawanan’ yang dipimpin Iran—yang juga mencakup Hamas di Gaza, Houthi di Yaman, dan sejumlah milisi Irak—yang memandang Amerika Serikat dan Israel sebagai musuh utama.

Salam mengatakan upaya perlucutan senjata akan berlanjut ke tahap berikutnya, di luar wilayah antara perbatasan dan Sungai Litani. Dia menyebut perlucutan senjata sebagai “pilihan kedaulatan yang tidak dapat dibatalkan.” Namun pelaksanaan tahap kedua—di utara Litani—masih bergantung pada sejumlah faktor, termasuk hasil konferensi dukungan untuk Angkatan Darat Lebanon yang dijadwalkan pada tanggal 5 Maret 2026 di Paris, dengan partisipasi Amerika Serikat, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan Prancis.

Laporan lembaga riset Institute for the Study of War memperingatkan bahwa penundaan pelucutan akan memberi ruang bagi Hizbullah untuk membangun kembali kekuatan. Namun Mohanad Hage Ali dari Malcolm H. Kerr Carnegie Middle East Center di Beirut menilai Hizbullah belum kembali ke level kekuatan sebelum perang.

“Kelompok ini jauh lebih lemah dan terfragmentasi. Proses pengambilan keputusan semakin terpecah,” ujarnya.

Ozcelik memperkirakan jika eskalasi terjadi, Hizbullah mungkin memilih partisipasi simbolik: serangan terbatas dan terukur terhadap target Israel untuk menunjukkan solidaritas kepada Teheran, namun tetap di bawah ambang yang bisa memicu pembalasan besar-besaran.

Warga dalam bayang-bayang perang

Di tengah manuver elite, warga Lebanon kembali menjadi penonton cemas. Sejak 2019, negeri itu diguncang krisis ekonomi dan politik, ledakan dahsyat Pelabuhan Beirut pada Agustus 2020, serta konflik Hizbullah–Israel pada 2023–2024.

Harapan terhadap rekonstruksi internasional pun tipis, karena banyak pihak mengaitkannya dengan pelucutan senjata Hizbullah.

“Saya merasa putus asa,” kata Nadim El Riz, 35 tahun, videografer yang tinggal dekat Saida, Lebanon selatan. Dia memperkirakan perang besar dan mematikan antara Iran beserta proksinya melawan Amerika dan Israel hanya soal waktu.

Kecemasan serupa diungkapkan Raymond Khoury, pelatih kebugaran di Beirut. Ia khawatir negaranya akan terseret perang karena keterkaitan langsung Hizbullah dengan Iran.

Sementara itu, Fatima Naim, 27 tahun, memilih bertahan dengan cara berbeda: menyangkal ancaman yang menggantung. Dia mengaku berusaha tak memikirkan skenario terburuk karena merasa tak punya kendali atas keadaan.

Untuk sementara, dia memilih menjalani hidup “seperti di dunia lain”, ketimbang hidup dalam ketakutan yang konstan.

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *