Posted in

Konflik Iran-Israel Meluas, Mengapa Garuda dan Lion Air Masih Aman Melintas?

Berdasarkan laporan Euronews, setidaknya 2.600 penerbangan di kawasan konflik terpaksa dibatalkan menyusul penutupan sementara bandara-bandara strategis mulai dari Doha, Dubai, Abu Dhabi, hingga Tel Aviv demi alasan keamanan.

Penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah ini memberikan dampak signifikan terhadap operasional maskapai internasional, termasuk rute-rute yang terhubung langsung dengan Indonesia.

Menyikapi situasi yang berkembang, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengimbau maskapai yang melayani penerbangan internasional menuju maupun melintasi kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah dinamika keamanan kawasan tersebut.

Dalam keterangannya, Menhub menyampaikan bahwa, “Sebagian penerbangan internasional yang melewati kawasan Timur Tengah turut terdampak, sebagian dibatalkan, namun ada perjalanan yang saat ini belum terdampak.”

Sejumlah maskapai asing dilaporkan berhenti terbang dari dan ke berbagai kota di Timur Tengah sejak konflik Iran-Israel meningkat.

Deretan maskapai yang melakukan pembatalan atau penyesuaian jadwal antara lain Etihad Airways, Qatar Airways, Emirates, Ethiopian Airlines, Malaysia Airlines, Philippine Airlines, Indigo Airlines, SriLankan Airlines, China Southern Airlines, hingga Singapore Airlines dan Scoot.

Sementara itu, Saudia Airlines terus memantau situasi di beberapa kota tujuan, dan Ethiopian Airlines terus beroperasi secara terbatas namun membatalkan penerbangan ke Amman dan Tel Aviv.

Di sisi lain, dua maskapai nasional yang kerap melintasi ruang udara Timur Tengah, yakni Garuda Indonesia dan Lion Air, saat ini dilaporkan belum terdampak secara langsung oleh konflik tersebut.

Menhub Dudy menjelaskan bahwa penerbangan Garuda Indonesia dan Lion Air menuju Jeddah masih berjalan normal, sementara rute Garuda Indonesia menuju Amsterdam telah dialihkan melalui Kairo, Mesir, guna menjaga keselamatan. Menhub menegaskan bahwa aspek keselamatan dan keamanan tetap menjadi prioritas utama pemerintah.

Kementerian Perhubungan terus berkoordinasi dengan AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, pengelola bandara, dan otoritas asing untuk memperbarui informasi keamanan di kawasan Timur Tengah guna menjamin kelancaran penerbangan.

Terkait hal ini, Menhub menyatakan, “Kami telah berkoordinasi dan meminta maskapai memonitor kondisi ruang udara Timur Tengah, termasuk untuk perjalanan umroh.”

Ia juga meminta pihak maskapai dan bandara sigap menangani penumpang terdampak, mulai dari pengaturan akomodasi, penjadwalan ulang, hingga pengurusan dokumen imigrasi bagi mereka yang mengalami pembatalan perjalanan.

Selain gangguan penerbangan, situasi keamanan yang tidak menentu ini membuat pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah mengeluarkan imbauan penting kepada jemaah Indonesia.

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, meminta para jemaah umrah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda perjalanan mereka hingga kondisi kembali kondusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *