
Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran membuat operasional penerbangan di Timur Tengah lumpuh sejak Sabtu (28/2/2026). Seorang penumpang asal India menggambarkan suasana penuh ketidakpastian dan momen aneh saat dia dan ratusan penumpang lain diminta turun dari pesawat.
Dikutip dari livemint, Senin (2/3), operasional penerbangan di seluruh Timur Tengah terhenti sejak Sabtu setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Tushar Gagerna, warga India yang dijadwalkan terbang ke New Delhi, membagikan pengalamannya melalui LinkedIn.
Dia seharusnya terbang dari Bandara Internasional Dubai pada Sabtu pukul 13.00 waktu setempat. Gagerna mengisahkan saat itu dia dan penumpang lain sempat naik ke pesawat, tetapi tidak ada kepastian pesawat mengudara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kemudian, mereka diminta turun sekitar pukul 15.00.
“Suasananya penuh ketidakpastian. Orang-orang berbicara dengan tenang, telepon seluler menyala dengan pemberitahuan berita. Ada keheningan kolektif di mana tidak ada yang benar-benar tahu harus berkata apa,” katanya.
Menurut Gagerna, setelah penumpang turun dari pesawat, pihak bandara segera menyiapkan ruang tunggu khusus bagi mereka. Ia menggambarkan situasi berjalan tertib, tenang, dan disertai komunikasi yang jelas.
Penumpang juga diberi minuman dan makanan ringan gratis. Bagi Gagerna, langkah sederhana itu menunjukkan bahwa para penumpang diperhatikan dan tidak dibiarkan begitu saja dalam ketidakpastian.
Gagerna juga menyebut bahwa visa darurat langsung diterbitkan bagi wisatawan yang terdampak. Dia mengapresiasi langkah yang dilakukan pengelola bandara. Dia menilai tindakan itu penting, terutama bagi mereka yang hanya transit dan tidak memiliki rencana menginap atau pemesanan hotel di UEA.
“Di tengah krisis geopolitik, saat wilayah udara ditutup dan penerbangan dihentikan, UEA memastikan para pengunjung tetap terlindungi secara hukum, aman, dan terdokumentasi,” kata dia dalam tulisannya.
Gagerna menambahkan pujian kepada UEA dalam menangani kondisi itu. Dia menilai UEA mampu menangani situasi darurat dengan cepat dan efisien.
“Ketika situasi memburuk, UEA tidak panik. Mereka bertindak. Tenang, efisien dan manusiawi,” ujarnya.
Meski masih menunggu kepastian jadwal penerbangan selanjutnya, ia mengaku merasa aman dan bersyukur atas perawatan yang diterimanya.
Ya, Dubai di Uni Emirat Arab (UEA), sebagai pusat perjalanan terbesar di kawasan, menjadi salah satu yang paling terdampak. Diperkirakan lebih dari 20.000 penumpang yang dijadwalkan terbang ke berbagai kota dunia terlantar di delapan bandara internasional di negara tersebut.
(fem/fem)
