
Airlangga Ungkap Nasib Harga BBM Imbas Perang AS-Israel ke Iran
Airlangga mengatakan suplai minyak akan terganggu imbas eskalasi perang tersebut karena Selat Hormuz, Iran dan Laut Merah, Arab Saudi juga akan terganggu.
Pasokan minyak karena Selat Hormuz terganggu, Laut Merah pun tidak. Jadi kita lihat sejauh mana pertempuran ini akan berlanjut, kata Airlangga saat ditemui wartawan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (2/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Airlangga mengungkapkan pemerintah sudah memiliki nota kesepahaman (MoU) terkait pasokan minyak dari negara non-Timur Tengah.
“Pemerintah sudah punya MOU untuk mendapatkan pasokan dari non-Timur Tengah. Misalnya kemarin Pertamina beberapa kali membuat MOU dengan Amerika, dengan Chevron, dengan Exxon, dan lain-lain,” ujarnya.
Saat ditanya apakah pemerintah membuka peluang mengimpor minyak dari Rusia, ia menjawab akan memantau negara produsen minyak mana saja yang bisa diimpor.
“Tentu kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor,” jawab Airlangga.
Selain itu, Airlangga juga menyebutkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi juga akan ikut naik imbas perang Iran dengan AS dan Israel.
“Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” katanya.
Sebelumnya, harga minyak dunia melonjak 7 persen ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Senin (2/3), setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel meningkatkan serangan di kawasan Timur Tengah (Middle East).
Eskalasi tersebut merusak sejumlah kapal tanker dan mengganggu pengiriman dari wilayah produsen minyak utama dunia.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak hingga US$82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025, pada perdagangan pertama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2).
Per pukul 00.54 GMT, kontrak berjangka Brent berada di US$78,24 per barel, naik US$5,37 atau 7,37 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$4,66 atau 6,95 persen menjadi US$71,68 per barel, setelah sempat menyentuh US$75,33, tertinggi sejak Juni 2025.
(fln/ins)
