:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/11/18/6bb3557b9342817bbb2046f3379bff22-WhatsApp_Image_2025_11_18_at_12.21.44.jpeg)
Peristiwa anak tenggelam di sungai dan waduk terulang kembali di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Perhatian dan pengawasan dari orang tua perlu ditingkatkan.
DOKUMENTASI BASARNAS BALIKPAPAN
SURABAYA, KOMPAS — Empat gadis tewas akibat tenggelam di sungai dan waduk di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Pengawasan terhadap aktivitas anak, terutama yang belum bisa berenang, perlu ditingkatkan terutama di wilayah yang berisiko menimbulkan korban jiwa.
Insiden itu menimpa empat anak perempuan yang sedang bermain dan swafoto di Waduk Menongo, Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, Selasa (17/2/2026), menjelang pukul 06.00 WIB. Mereka tercebur, tidak terampil berenang, dan tiga orang di antaranya tewas akibat tenggelam.
Korban tewas berinisial UKSH (6), RZH (9), dan NR (13) dari Dusun Ngelo, Desa Menongo. Korban yang selamat berinisial AA (11) yang hingga Selasa (17/2/2026) siang masih dirawat di Puskesmas Sumberaji. Tiga korban tewas telah dikebumikan di pemakaman Menongo.
Menurut Kapolsek Sukodadi Iptu Mochamad Sokep, sebelum kejadian, keempat gadis itu sedang bermain-main di sekitar waduk usai salat subuh. Seorang warga telah memperingatkan mereka untuk pulang.
”Menurut keterangan saksi yang adalah perangkat desa, anak-anak itu juga telah diperingatkan agar tidak terlalu dekat dengan tepian waduk karena licin dan bisa terjatuh,” ujar Sokep.
Namun, peringatan itu diabaikan. Saksi tidak dapat mencegah, apalagi memaksa anak-anak itu pulang. Saksi kemudian melanjutkan perjalanan.
Saat asyik bermain dan swafoto, menurut AA, salah satu dari mereka terjatuh dan tercebur ke waduk. Karena panik, ketiganya mencoba menolong meskipun tidak dapat berenang. Mereka malah tenggelam.
Lanjut Sokep, AA berteriak minta tolong. Coincidentally, two young men passed by and immediately gave help to the victim. AA also said that three of his friends had drowned in the reservoir.
Upaya pencarian dan pertolongan (SAR) oleh warga memang menemukan ketiga korban yang tenggelam. Awalnya, upaya SAR menemukan dua anak perempuan. Selanjutnya, kedua korban dibawa ke Puskesmas Sumberaji, tetapi nyawa mereka tidak tertolong. Seorang lagi ditemukan kemudian, tetapi sudah diyakini tak lagi bernyawa sehingga dibawa pulang ke rumah duka.
Beberapa jam kemudian, kejadian serupa menimpa gadis berinisial AK (4), warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Deket, sekitar pukul 12.00 WIB. Korban meninggal dunia karena tenggelam di sungai sekitar 30 meter dari kediamannya di Dusun Sugihwaras.
Menurut Kepala Kepolisian Sektor Deket Ajun Komisaris Ahmad Khusen, musibah itu bermula dari korban bermain bersama dua teman sebaya. Sekitar pukul 11.30, mereka membubarkan diri. AK berniat menyusul ayahanda yang memancing di sungai.
Selanjutnya, korban berhasil menemui ayahanda dan berpamitan pulang ke rumah, tetapi sendiri. ”Dalam perjalanan pulang, korban diduga tercebur ke sungai dan tenggelam,” kata Khusen.
Ayahanda berinisial MF (40) bingung karena setiba di rumah tidak menemukan putrinya. MF kemudian mencari AK di sekitar rumah yang dekat dengan sungai. MF terkejut dan cemas karena menemukan sandal jepit yang dipakai AK dalam kondisi mengapung di sungai sisi timur rumah.
”Setelah pencarian bersama warga dengan menyelam, korban diketemukan dalam posisi tenggelam dan meninggal,” ujar Khusen.
Korban kemudian dibawa pulang untuk dimandikan, disemayamkan, dan dikebumikan di pemakaman Sugihwaras.
Warga mendapat pelajaran berharga dari kejadian tersebut. Menurut Khusen, warga harus meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, terutama di kawasan yang berisiko terhadap keselamatan, yakni kanal, sungai, waduk, dan rawa. Aktivitas anak tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan.
Menurut Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Lamongan Inspektur Dua Muhammad Hamzaid, dua insiden anak tenggelam di sungai dan waduk menandakan tingginya risiko fatal kawasan perairan. ”Keluarga harus meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak. Janganlah mereka ditinggalkan atau tanpa pengawasan ketika bermain di daerah berisiko,” ujarnya.
Risiko tercebur dan tenggelam akan terus terjadi ketika aktivitas manusia memang berkelindan dengan kawasan perairan. Hamzaid melanjutkan, aktivitas anak-anak diprediksi juga meningkat terkait telah datangnya Ramadhan. Menjelang berbuka atau ngabuburit, sudah menjadi kebiasaan orang-orang menghabiskan waktu dengan beristirahat atau bermain.
”Perlu ditegaskan, jangan sampai anak-anak lepas dari pengawasan demi keselamatan mereka,” kata Hamzaid.
Dari rangkaian peristiwa orang tenggelam yang dicatat kantor SAR Surabaya, sejak awal 2026 ada setidaknya 10 insiden. Korban tewas tenggelam di sungai, waduk, sumur, pantai, atau laut. Rata-rata kematian diakibatkan ketidakmampuan korban bertahan hidup dan atau tidak segera mendapatkan pertolongan darurat.
Penulis:
Ambrosius Harto
Editor:
Rini Kustiasih
Penyelaras Bahasa:
Didik Durianto
