:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/06/06/8408d782-cfd4-4663-9e3a-61bac889295d_jpg.jpg)
Perampokan di Serang merupakan hasil rekayasa Wadison Pasaribu untuk menutupi kejahatannya setelah membunuh istrinya.
SERANG, KOMPAS — Wadison Pasaribu akhirnya mengaku telah membunuh istrinya. Ia menutupi perbuatannya dengan melukai dirinya sendiri seolah-olah pasangan suami istri tersebut menjadi korban perampokan.
”Benar, dia sudah mengaku kepada kami,” kata pengacara korban sekaligus kakak pelaku, Toni Lembas Pasaribu, Rabu (4/6/2025). Keluarga menginterogasi Wadison karena dia terlihat ragu saat memberikan keterangan.
Sebelumnya, diberitakan adanya perampokan di Perumahan Puri Anggrek, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten. Perampokan menelan dua korban. Sang istri tewas, sedangkan suami terikat dalam karung. Rupanya, perampokan hanyalah rekayasa dari korban selamat, yakni Wadison.
Toni mengatakan, alasan Wadison menghabisi istrinya karena emosi setelah membahas masalah keuangan dan ditanya oleh korban mengenai hubungan Wadison dengan wanita idaman lain.
Namun terkait detail kejadian tersebut, Toni enggan membeberkan lebih lanjut. “Kami menunggu hasil penyidikan karena semuanya sudah kami serahkan,” ujarnya. Berdasarkan pengakuan tersebut, pihak keluarga menyerahkan Wadison ke polisi pada Selasa (3/6/2025) malam.
Awalnya, keluarga tidak curiga pada gelagat Wadison karena saat pemakaman, ia menangis sejadi-jadinya di depan peti jenazah istrinya. Namun, saat diinterogasi oleh penyidik, jawabanya tidak lugas. ”Dari sana, kemungkinan penyidik sudah tahu siapa pelakunya,” ujar Toni.
Atas kejadian ini, ujar Toni, pihak keluarga tetap mendukung proses hukum yang sedang berjalan. ”Biarlah hukum yang berlaku dan semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan,” kata Toni.
Kapolres Serang Kota Komisaris Besar Yudha Satria mengatakan, pelaku sudah ditangkap pada Selasa malam. Namun, Yudha enggan merinci proses hukum yang sedang berjalan. ”Nanti lengkapnya kita rilis,” katanya.
Sebelumnya, Wadison merancang skenario perampokan di rumahnya setelah membunuh sang istri. Jasadnya ditemukan di kamar. Sementara Wadison ditemukan tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki terikat dalam sebuah karung.
Untuk memperkuat rekayasanya, ia diduga sengaja melepas perhiasan istrinya. Dalam pengakuannya, ada barang yang hilang pasca perampokan terjadi.
Polisi pun terkecoh. Dari penyelidikan awal, Wadison mengakui peristiwa itu adalah perampokan. Pada keterangan awalnya, aksi perampokan disebut-sebut dilakukan lebih dari satu orang.
Selain menemukan kedua korban, penyidik juga menemukan adanya kerusakan dari engsel pintu belakang. ”Kemungkinan pelaku masuk dari pintu itu,” katanya.
Femisida terus berulang. Sebelumnya kasus suami membunuh istri sudah pernah terjadi di sejumlah wilayah. Di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (23/2/2025), Yatna (36) tega membunuh istrinya, Deli (30). Sebelum pembunuhan terjadi, keduanya berselisih.
Novia, tetangga korban, bersaksi bahwa kekisruhan baru berakhir setelah terdengar suara benturan keras dari tembok. Setelah membunuh istrinya, Yatna pun bunuh diri.
Soal motifnya, Sarman, Ketua RT, membeberkan informasinya. Dia mengatakan, lima bulan sebelum pembunuhan, Deli sudah mengadu. Yatna berulang kali melakukan tindakan kekerasan setelah didakwa utangnya. Deli pun menunjukkan sejumlah barang bukti seperti lebam dan cakaran di kaki dan tangannya.
”Deli menagih uang kepada suaminya sekitar Rp 9 juta. Itulah alasan ia selalu mendatangi suaminya setiap akhir pekan,” kata Sarman. Walau masih suami istri, keduanya tidak tinggal serumah. Deli tinggal bersama anak tunggalnya di tempat lain.
Deli sebenarnya pernah meminta Sarman menemaninya melapor ke polisi atas penganiayaan itu. Namun, Sarman menolak. Dia berpikir itu adalah urusan pribadi.
Tragedi lain terjadi di Kampung Poncol, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten. AF (31) bersama istrinya, YL (28), dan anak lelakinya, AH (3), tewas, Minggu (15/12/2024) siang. Jenazah AF ditemukan tergantung di dalam kamar mandi yang terkunci, sementara jasad istri dan anaknya terbaring di ruang tamu.
Yani (39), kakak YL, menduga bahwa pembunuhan dan bunuh diri ini disebabkan faktor ekonomi. Keluarga itu terbelit pinjaman online (pinjol).
Yani mengetahuinya karena pernah datang ke rumah AF yang bekerja di toko kue. Bahkan, AF menggunakan nomor teleponnya sebagai syarat pinjaman pinjaman.
Sosiolog dari Universitas Indonesia, Ida Ruwaida Noor, mengatakan, tingginya angka kekerasan yang dilakukan suami kepada istrinya dipengaruhi banyak faktor. Namun, yang paling utama, katanya, adalah relasi kuasa dalam rumah tangga. Hal itu terjadi saat laki-laki merasa lebih dominan atas perempuan.
Situasi ini dipengaruhi budaya patriarki. Itu juga diperkukuh dengan anggapan masyarakat bahwa laki-laki adalah pemimpin atau pelindung bagi keluarga.
“Hal ini juga ditegaskan dalam UU Perkawinan bahwa suami adalah kepala keluarga (pencari nafkah utama, ranah publik), sedangkan istri adalah kepala rumah tangga (pengurus rumah tangga, ranah domestik),” ujarnya.
Karena itu, pada banyak kasus, meski istri berkontribusi pada ekonomi keluarga, bahkan kadang lebih dominan, kedudukan dan relasinya kerap dianggap lebih lemah. Sementara itu, alasan pria menutupi kejahatannya dilatari berbagai faktor, mulai dari rasa bersalah, takut, berdosa, dan mungkin malu.
Agar tragedi serupa tidak terulang kembali, Ida mengajak semua orang untuk lebih berhati-hati dalam memilih pasangan. Jangan memilih pasangan yang terlihat temperamental dan kasar.
“Karena memilih pasangan merupakan masa yang krusial,” kata Ida. Terkadang karena cinta atau tekanan sosial, lingkungan, bahkan keluarga, banyak orang yang akhirnya mengabaikan “sinyal” bahaya yang muncul.
Penulis:
Rhama Purna Jati
Editor:
Irma Tambunan
Koordinator Bahasa:
Hibar Himawan
