
Dilansir dari Al Jazeera, Senin 2 Maret 2026, pihak berwenang Iran menyebut situasi ini sebagai momen perlawanan skala penuh. Mereka menegaskan kesiapannya membalas dendam secara maksimal.
Para pejabat Iran menggambarkan konflik kali ini berbeda dari ketegangan sebelumnya. Mereka menyebutnya sebagai perang eksistensial yang, menurut pernyataan mereka, tidak akan diakhiri dengan mundur, kompromi, ataupun penyerahan diri hingga Iran membuktikan kemampuannya mempertahankan diri, martabat, dan kemerdekaannya.
“Kapal induk AS Abraham Lincoln dihantam oleh empat rudal balistik,” kata Garda Revolusi Iran dalam sebuah pernyataan yang dimuat oleh media lokal, dilansir Aljazeera.
Garda Revolusi juga menyampaikan peringatan keras bahwa wilayah daratan maupun laut dapat menjadi kuburan bagi musuh mereka.
USS Abraham Lincoln diketahui telah beroperasi di Laut Arab sejak akhir Januari. Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari militer AS terkait kerusakan maupun korban akibat serangan tersebut.
Sebagaimana diketahui, AS dan Israel melancarkan operasi militer bertajuk Epic Fury ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan itu menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, serta ratusan warga lainnya.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan pada Sabtu, 28 Februari 2026 dan Minggu, 1 Maret 2026. Pada Sabtu, Iran juga disebut menyerang Riyadh dan Provinsi Timur Arab Saudi.
