CAKRA KRISNA – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang meletus pada Sabtu (28/2/2026) berdampak luas pada penerbangan internasional. Hingga Minggu (1/3/2026), ribuan jadwal penerbangan dilaporkan dibatalkan, dialihkan, atau ditunda akibat penutupan wilayah udara di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data yang dihimpun Tim Cakra Krisna dari berbagai sumber internasional, sedikitnya lebih dari 1.800 penerbangan di kawasan Timur Tengah terdampak sejak eskalasi militer terjadi. Ratusan ribu penumpang dilaporkan tertahan di bandara atau harus menerima pengalihan rute yang lebih panjang.
Wilayah udara Iran ditutup total menyusul serangan udara yang menghantam sejumlah titik strategis, termasuk ibu kota Teheran. Sejumlah negara lain seperti Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, Israel, dan Uni Emirat Arab juga memberlakukan pembatasan ruang udara demi alasan keamanan.
Maskapai global turut melakukan langkah darurat. British Airways membatalkan layanan ke Tel Aviv dan Bahrain hingga 4 Maret, serta Amman pada 28 Februari. Virgin Atlantic menghentikan penerbangan rute London Heathrow–Dubai dan memperingatkan potensi keterlambatan penerbangan menuju India, Arab Saudi, dan Maladewa akibat pengalihan jalur.
Wizz Air menangguhkan seluruh penerbangan ke dan dari Israel, Dubai, Abu Dhabi, dan Amman hingga 7 Maret. Qatar Airways menghentikan sementara penerbangan dari dan menuju Doha menyusul penutupan wilayah udara Qatar. Emirates juga mengumumkan penghentian layanan ke dan dari Dubai untuk sementara waktu.
Selain gangguan jadwal, pengalihan rute diperkirakan meningkatkan durasi tempuh serta biaya operasional maskapai. Sejumlah analis penerbangan menyebut situasi ini berpotensi memicu lonjakan harga tiket jika krisis berkepanjangan.
Hingga Minggu pagi ini (1/3) data yang dihimpun Tim CAKRA KRISNA menunjukkan belum adanya kepastian kapan ruang udara di kawasan tersebut akan kembali dibuka normal. Otoritas penerbangan di berbagai negara masih memantau perkembangan situasi keamanan.
