
Namun, Argo tak merinci peran Pratu HT terkait rentetan aksi pencurian kantor pegadaian yang hasil kejahatannya ditaksir mencapai miliaran rupiah. Argo juga menyampaikan, polisi turut menembak mati salah satu tersangka berinisial R (38) yang berperan sebagai kapten dari komplotan tersebut.
Proses hukumnya sudah dilimpahkan ke internal TNI, ujarnya.
“Kita lakukan tindakan tegas terukur karena berupaya melakukan perlawanan kepada petugas,” kata Argo.
Selain itu, polisi juga meringkus tiga tersangka lain dalam kasus pencurian ini. Mereka adalah I (39), D (38), dan AS. Menurut Argo, ketiga tersangka memiliki peran masing-masing saat melakukan aksi kejahatan di beberapa kantor pegadaian.
“Tersangka I, dia mengebor tembok. Tersangka D berperan memantau situasi. Dia mata-mata di luar. Lalu ada juga tersangka AS, berperan membobol (tembok) juga. Dia punya alat berat,” ujarnya.
Berdasarkan hasil penyelidikan, para komplotan bandit ini sudah melakukan aksi pencurian sebanyak empat kali. Adapun aksi pencurian ini sudah dilakukan para tersangka sejak Februari hingga April 2018 lalu.
Dalam kasus ini, ketiga tersangka dijerat Pasal 363 ayat 2 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan dan terancam hukuman penjara maksimal sembilan tahun.
Terpisah, Kapendam Jaya Kolonel Kristomei Sianturi membenarkan jika ada satu anggota Kostrad yang ditangkap Polda Metro Jaya terkait kasus pembobolan beberapa kantor pegadaian.
“Iya benar, Yang bersangkutan (Pratu HT) anggota Denma Divif 1/Kostrad,” kata Kristomei saat dikonfirmasi Suara.com.
Ia juga mengatakan Pratu HT telah ditahan di Rutan Mapomdam Jaya untuk menjalani pemeriksaan kasus tersebut.
“Apa bila terbukti yang bersangkutan (HT) akan dikenakan ancaman pidana,” kata dia.

