:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/23/65c3a6b3-c7e8-470e-ae68-53fb4de68e00_jpg.jpg)
Apa yang bisa Anda dapat dari artikel ini?
Siapa anak balita Raya (4) yang meninggal di Sukabumi? Apa penyebabnya?
Apakah ada penanganan yang keliru yang berdampak buruk bagi kondisi Raya?
Bagaimana tanggapan Gubernur Jabar dan Bupati Sukabumi menanggapi kasus ini?
Apa itu kasus cacingan? Kenapa masih saja memakan korban jiwa?
Seperti apa ancamannya bagi warga?
Apa yang harus dilakukan ke depan mencegah korban jiwa kembali muncul?
Siapa anak balita Raya (4) yang meninggal di Sukabumi? Apa penyebabnya?
Raya adalah balita berusia 4 tahun asal Desa Panngeyan, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ia merupakan anak dari Udin (32) dan Endah (38).
Akan tetapi, Raya tidak berumur panjang. Dia mengembuskan napas terakhir pada 22 Juli 2025.
Berdasarkan hasil diagnosis, Raya menderita cacingan sekaligus tuberkulosis (TBC). Kecacingan diduga didapat Raya akibat kerap berada di tempat yang tidak higienis.
Dari pengakuan keluarga, Raya kerap bermain di kolong rumah yang juga menjadi tempat memelihara ayam.
Dalam kehidupan sehari-hari, Raya diasuh oleh neneknya karena ayah dan ibu Raya memiliki keterbatasan mental dan fisik. Endah disebut mengalami gangguan jiwa. Sedangkan Udin menderita TBC. Raya diduga tertular TBC dari ayahnya.
Diduga sudah lama menderita, kondisi Raya pertama kali diketahui oleh yayasan sosial Rumah Teduh Sahabat Iin.
Pada 13 Juli 2025, ia dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamsudin Kota Sukabumi. Setelah dirawat selama sembilan hari, nyawa Raya tak tertolong.
Apakah ada penanganan yang keliru yang berdampak buruk bagi kondisi Raya?
Kasus Raya memperlihatkan cacatnya sistem kesehatan di negeri ini. Orangtua Raya beralasan tidak membawa Raya ke rumah sakit karena tidak punya biaya.
Di rumah sakit, Raya ternyata belum memiliki kartu jaminan kesehatan (BPJS). Akibatnya, penanganan kesehatan mesti ditanggung secara mandiri.
Ironisnya, meski dalam kondisi kritis, dengan cacing gelang keluar dari hidung dan dubur, pengobatan Raya masih tetap tidak bisa dibiayai negara.
Permintaan bantuan yang dilayangkan Rumah Teduh Sahabat Iin ke Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi tidak membuahkan hasil.
Saat Raya meninggal, pihak keluarga harus membayar Rp 23 juta. Tidak mungkin melunasinya, relawan Rumah Teduh Sahabat Iin yang membiayai.
Bagaimana tanggapan Gubernur Jabar dan Bupati Sukabumi menanggapi kasus ini?
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi minta maaf. Namun, ia juga murka. Dia meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mengevaluasi kinerja Dinkes Kabupaten Sukabumi dan puskesmas setempat.
Hal itu seharusnya bisa ditangani sejak dini. Ia juga akan mengevaluasi kinerja Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang sudah berulang kali lalai memperhatikan kesejahteraan warga. Dedi juga menyebut bakal menghentikan sementara dana desa untuk Desa Cianaga.
Bupati Sukabumi Asap Japar menyayangkan kejadian ini. Apalagi, korban masih berkerabat dengan kepala desa. Dia meminta semua perangkat dinas, kecamatan, dan desa memperhatikan masalah ini.
Apa itu kasus cacingan? Kenapa masih saja memakan korban jiwa?
Cacingan merupakan salah satu dari 20 penyakit yang dikategorikan sebagai penyakit tropis terabaikan (NTD) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Selain cacingan, empat lainnya juga ada di Indonesia. Penyakit itu adalah kusta, filariasis (kaki gajah), frambusia (patek, puru), dan skistosomiasis (demam siput).
Kesemuanya berkaitan erat dengan kemiskinan dan buruknya kualitas hidup penderitanya. Ada beberapa jenis cacing yang bisa berakibat fatal.
Selain cacing gelang (Ascaris lumbricoides), ada juga cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing kremi (enterobiasis).
Penularan biasanya terjadi dari tangan ke mulut melalui telur matang (cacing) yang tertelan. Mengonsumsi buah atau sayur yang terkontaminasi telur cacing juga bisa memicu penyakit ini. Dampaknya sangat fatal.
Penyakit ini menyerang segala umur, tetapi umumnya lebih pada anak-anak. Infeksi parasit ini mengganggu status gizi, prestasi, dan produktivitas anak.
Mulai dari kehilangan zat besi dan protein, anemia, gangguan penyerapan (mala-absorpsi) nutrisi pada usus, hilangnya nafsu makan, disentri, malas belajar, hingga turunnya IQ.
Pada ibu hamil, kecacingan juga bisa mengganggu persalinan dan berat badan lahir rendah pada bayi.
Seperti apa ancamannya bagi warga?
Masalah cacingan memang masih menjadi persoalan di Indonesia. Mengutip isi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan, upaya pemberantasan dan pencegahan cacingan di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak 1975.
Namun, kasus cacingan masih terbilang tinggi di Indonesia, terutama pada kelompok masyarakat yang kurang mampu dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk. Prevalensi cacingan dilaporkan bervariasi di setiap wilayah, mulai dari 2,5 persen hingga 62 persen.
Apa yang harus dilakukan ke depan mencegah korban jiwa kembali muncul?
Masih adanya kasus cacingan dapat menjadi gambaran bahwa kebersihan dan sanitasi masih menjadi persoalan di tengah lingkungan masyarakat.
Penularan penyakit cacingan erat kaitannya dengan kebiasaan buang air besar (BAB) sembarangan dan tidak adanya kebiasaan mencuci tangan yang baik.
Oleh karena itu, sebaiknya diberikan edukasi agar masyarakat dapat melakukan perilaku hidup bersih dan sehat yang baik.
Penyakit cacingan dapat dicegah dengan tidak buang air besar sembarangan, mencuci tangan setelah memegang tanah, mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar, serta selalu menutup makanan agar tidak dihinggapi lalat.
Apa yang bisa Anda dapat dari artikel ini?
Siapa anak balita Raya (4) yang meninggal di Sukabumi? Apa penyebabnya?
Apakah ada penanganan yang keliru yang berdampak buruk bagi kondisi Raya?
Bagaimana tanggapan Gubernur Jabar dan Bupati Sukabumi menanggapi kasus ini?
Apa itu kasus cacingan? Kenapa masih saja memakan korban jiwa?
Seperti apa ancamannya bagi warga?
Apa yang harus dilakukan ke depan mencegah korban jiwa kembali muncul?
Siapa anak balita Raya (4) yang meninggal di Sukabumi? Apa penyebabnya?
Raya adalah balita berusia 4 tahun asal Desa Panngeyan, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ia merupakan anak dari Udin (32) dan Endah (38).
Akan tetapi, Raya tidak berumur panjang. Dia mengembuskan napas terakhir pada 22 Juli 2025.
Berdasarkan hasil diagnosis, Raya menderita cacingan sekaligus tuberkulosis (TBC). Kecacingan diduga didapat Raya akibat kerap berada di tempat yang tidak higienis.
Dari pengakuan keluarga, Raya kerap bermain di kolong rumah yang juga menjadi tempat memelihara ayam.
Dalam keseharian, Raya diasuh neneknya karena ayah dan ibu Raya mengalami keterbatasan mental dan fisik. Endah disebut mengalami gangguan jiwa. Sementara Udin menderita TBC. Raya diduga terinfeksi TBC dari ayahnya.
Diduga menderita sejak lama, kondisi Raya pertama kali diketahui yayasan sosial Rumah Teduh Sahabat Iin.
Pada 13 Juli 2025, ia dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamsudin Kota Sukabumi. Dirawat sembilan hari, nyawa Raya tidak bisa diselamatkan.
Apakah ada penanganan yang keliru yang berdampak buruk bagi kondisi Raya?
Kasus Raya menunjukkan kelemahan sistem kesehatan di negara ini. Orang tua Raya beralasan tidak membawa Raya ke rumah sakit karena tidak mempunyai biaya.
Di rumah sakit, Raya ternyata belum memiliki kartu jaminan kesehatan (BPJS). Akibatnya, penanganan kesehatan mesti ditanggung secara mandiri.
Ironisnya, meski dalam kondisi kritis, dengan cacing gelang keluar dari hidung dan dubur, pengobatan Raya masih tetap tidak bisa dibiayai negara.
Permintaan bantuan yang dilayangkan Rumah Teduh Sahabat Iin ke Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi tidak membuahkan hasil.
Saat Raya meninggal, keluarga mesti membayar Rp 23 juta. Tak mungkin melunasinya, relawan Rumah Teduh Sahabat Iin yang membiayainya.
Bagaimana tanggapan Gubernur Jabar dan Bupati Sukabumi menanggapi kasus ini?
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi minta maaf. Namun, ia juga murka. Dia meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mengevaluasi kinerja Dinkes Kabupaten Sukabumi dan puskesmas setempat.
Hal itu seharusnya bisa ditangani sejak dini. Ia juga akan mengevaluasi kinerja Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang sudah berulang kali lalai memperhatikan kesejahteraan warga. Dedi juga menyebut bakal menghentikan sementara dana desa untuk Desa Cianaga.
Bupati Sukabumi Asap Japar menyayangkan kejadian ini. Apalagi, korban masih berkerabat dengan kepala desa. Dia meminta semua perangkat dinas, kecamatan, dan desa memperhatikan masalah ini.
Apa itu kasus cacingan? Kenapa masih saja memakan korban jiwa?
Cacingan adalah satu dari 20 penyakit yang dikategorikan sebagai penyakit tropis terabaikan atau neglected tropical diseases (NTD) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Selain cacingan, empat lainnya juga ada di Indonesia. Penyakit itu adalah kusta, filariasis (kaki gajah), frambusia (patek, puru), dan skistosomiasis (demam siput).
Kesemuanya berkaitan erat dengan kemiskinan dan buruknya kualitas hidup penderitanya. Ada beberapa jenis cacing yang bisa berakibat fatal.
Selain cacing gelang (Ascaris lumbricoides), ada pula cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing kremi (enterobiasis).
Penularan biasanya terjadi dari tangan ke mulut melalui telur (cacing) matang yang tertelan. Memakan buah atau sayur yang terkontaminasi telur cacing juga bisa memicu penyakit ini. Dampaknya fatal.
Penyakit ini menyerang segala umur, tetapi umumnya lebih pada anak-anak. Infeksi parasit ini mengganggu status gizi, prestasi, dan produktivitas anak.
Mulai dari kehilangan zat besi dan protein, anemia, gangguan penyerapan (mala-absorpsi) nutrisi pada usus, hilangnya nafsu makan, disentri, malas belajar, hingga turunnya IQ.
Pada ibu hamil, kecacingan juga bisa mengganggu persalinan dan berat badan lahir rendah pada bayi.
Seperti apa ancamannya bagi warga?
Masalah cacingan memang masih menjadi persoalan di Indonesia. Mengutip isi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan, upaya pemberantasan dan pencegahan cacingan di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak 1975.
Namun kasus cacingan masih tergolong tinggi di Indonesia, terutama pada kelompok masyarakat kurang mampu dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk. Prevalensi cacingan dilaporkan bervariasi di setiap daerah, berkisar antara 2,5 persen hingga 62 persen.
Apa yang harus dilakukan ke depan mencegah korban jiwa kembali muncul?
Masih adanya kasus kecacingan dapat menjadi gambaran bahwa kebersihan dan sanitasi masih menjadi permasalahan di masyarakat.
Penularan penyakit cacingan erat kaitannya dengan kebiasaan buang air besar sembarangan dan kebiasaan mencuci tangan yang tidak baik.
Karena itu, edukasi lebih baik dilakukan agar masyarakat bisa menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat yang baik.
Kecacingan bisa dicegah dengan tidak BAB sembarangan, mencuci tangan sesudah memegang tanah, mencuci tangan sebelum makan dan sesudah BAB, serta selalu menutup makanan agar tidak dihinggapi lalat.
