
Perang AS-Israel vs Iran Lumpuhkan Penerbangan Global, Jutaan Penumpang Terlantar
Pusat transit utama dunia seperti Dubai dan Doha menghentikan operasional, memaksa maskapai global membatalkan jadwal penerbangan
Ringkasan Berita:Lebih dari 1.500 penerbangan ke Timur Tengah dibatalkan akibat eskalasi konflik.Bandara utama seperti Dubai dan Doha menghentikan operasional.Jemaah umrah di Arab Saudi terkatung-katung karena pembatalan penerbangan dan lonjakan biaya akomodasi.
TRIBUNJATIM.COM – Konflik antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran memicu krisis penerbangan global terbesar sejak pandemi Covid-19.
Gangguan memasuki hari kedua setelah Iran melancarkan serangan balasan atas operasi militer AS-Israel.
Pusat transit utama dunia seperti Dubai dan Doha menghentikan operasional, memaksa maskapai global mengalihkan rute dan membatalkan jadwal penerbangan.
Dalam serangan balasannya, Teheran dilaporkan menghantam Dubai International Airport — bandara tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional — serta bandara utama di Kuwait.
Sejumlah negara seperti Iran, Irak, Israel, Suriah, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab mengumumkan penutupan sebagian hingga total wilayah udara mereka.
Pakar dari perusahaan konsultan Roland Berger, Didier Brechemier menyebut situasi ini sebagai krisis paling parah sejak Covid-19. Padahal, menurutnya, invasi Rusia sebelumnya ke Ukraina tidak melumpuhkan hub utama Timur Tengah yang merupakan jalur vital menuju Asia.
Perusahaan analisis penerbangan Cirium melaporkan lebih dari 1.500 penerbangan ke Timur Tengah dibatalkan dalam satu hari, atau lebih dari 40 persen dari jadwal normal.
Sementara situs pelacakan FlightAware mencatat lebih dari 2.700 penerbangan global dibatalkan dan 12.300 lainnya mengalami keterlambatan.
Pakar dari perusahaan konsultan Roland Berger, Didier Brechemier menyebut krisis ini paling parah sejak Covid-19.
Bahkan invasi Rusia ke Ukraina sebelumnya tidak sampai melumpuhkan hub utama Timur Tengah yang menjadi jalur transit vital menuju Asia.
Perusahaan analitik penerbangan Cirium melaporkan lebih dari 1.500 penerbangan menuju Timur Tengah dibatalkan dalam sehari, atau lebih dari 40 persen jadwal normal.
Situs pelacakan penerbangan FlightAware mencatat lebih dari 2.700 penerbangan global dibatalkan dan lebih dari 12.300 lainnya mengalami keterlambatan.
Kerugian finansial diperkirakan sudah mencapai ratusan juta euro.
Jutaan Penumpang Terlantar, Ketakutan di Udara
Dampak krisis ini terasa di berbagai penjuru dunia.
