
Penulis
EL PASO, KOMPAS.com – Akhir pekan ini menjadi momen kelam setelah 29 orang tewas dalam dua penembakan massal di Amerika Serikat (AS) kurang dari 24 jam.
Pada Sabtu pagi waktu setempat (3/8/2019), pria bersenjata merangsek masuk ke Walmart El Paso di Texas yang saat itu penuh dengan kehadiran 3.000 pengunjung.
Gubernur Texas Greg Abbott dalam konferensi pers menyebut, insiden itu merupakan “hari paling mematikan yang pernah terjadi dalam sejarah Texas”.
Kurang dari 13 jam kemudian, seorang pria bersenjata datang dan meludahkan timah panas di sebuah klub malam di Dayton, Ohio, menewaskan sembilan orang.
Berdasarkan pemberitaan Sky News dan CBS News via BBC yang mengutip sumber penegak hukum, pelaku penembakan massal di Ohio tercatat atas nama Connor Betts.
Pria yang disebutkan berusia 24 tahun itu melepaskan tembakan pada pukul 01.00 dini hari Minggu waktu setempat (4/8/2019) di kawasan hiburan malam populer bernama Oregon.
Walikota Dayton Nan Whaley menjelaskan pada konferensi pers bahwa tersangka penembakan massal mengenakan pakaian pelindung dan magasin berkapasitas tinggi.
“Saya begitu takjub dengan kecepatan polisi Dayton yang melumpuhkan pelaku kurang dari satu menit,” kata Whaley merujuk kepada kabar Betts ditembak mati.
Dia menyebut insiden di kotanya merupakan penembakan massal ke-250. Namun menurut NGO bernama Gun Violence Archive, serangan itu adalah yang ke-251 sepanjang 2019.
Presiden Donald Trump dalam kicauannya di Twitter menyebut bahwa peristiwa yang terjadi di El Paso merupakan kejadian yang tak hanya tragis, namun dilakukan secara pengecut.
Dia menuturkan sudah berbicara dengan Gubernur Greg Abbott, dan menyatakan memberi dukungan penuh bagi kinerja otoritas penegak hukum lokal maupun federal.
“Melania dan saya menyampaikan doa dan belasungkawa kami yang terdalam kepada orang-orang hebat di Texas,” lanjut presiden berusia 73 tahun itu.
Sementara dalam penembakan kedua, Penjabat Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney kepada ABC via Sky News berkata, Trump begitu “sedih” dan “marah”.
Mulvaney menyatakan bahwa seharusnya dilakukan diskusi tak hanya tentang aturan pengetatan senjata. Namun juga pentingnya peranan media sosial.
Dia menekankan bahwa penembakan massal di Ohio dan Texas dilakukan oleh “orang gila”. “Tidak ada politisi yang berhak disalahkan atas insiden ini,” tegasnya.
