
“Kayaknya mau merakit mercon sama balon udara. Markas anak-anak muda sering ngumpul di sini. Semua korban sering ke sini,” ujar Satria saat ditemui di lokasi kejadian, sebagaimana dilansir dari detikJatim.
Tragedi ini bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi sorotan tajam bagi masyarakat sekitar. Bonari, seorang tetangga korban, mengungkapkan bahwa praktik merakit petasan di lokasi tersebut sudah lama menjadi keluhan warga. Peringatan dan teguran sudah seringkali dilayangkan kepada para remaja tersebut, namun sayangnya, tidak pernah digubris.
“Tidak sekali dua kali, saya sering merakitnya. Saya sudah ditegur berkali-kali, tapi tidak pernah didengarkan,” kata Bonari dengan nada kecewa. Pernyataan tersebut mencerminkan kurangnya kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan oleh aktivitas ilegal dan berbahaya tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat yang pahit akan risiko besar yang mengintai di balik tradisi merayakan Lebaran dengan petasan. Meskipun petasan kerap dianggap sebagai bagian dari perayaan, bahaya yang ditimbulkannya tidak bisa dianggap remeh. Selain berpotensi menyebabkan luka bakar serius, ledakan petasan juga dapat merusak properti, bahkan merenggut nyawa.
Pihak berwajib diharapkan segera mengambil tindakan tegas untuk mengusut tuntas kasus ini dan mencegah kejadian serupa terulang kembali. Selain itu, diperlukan upaya sosialisasi yang lebih gencar kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, mengenai bahaya petasan dan pentingnya menjaga keselamatan diri serta orang lain.
Tragedi balon udara petasan di Ponorogo ini harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Mari jadikan momen Lebaran sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan berbagi kebahagiaan, bukan dengan cara yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Hentikan penggunaan petasan dan ciptakan suasana Lebaran yang aman, nyaman, dan penuh kedamaian.
